Segini Perbandingan Jumlah Trofi Arema dan Persebaya Sepanjang Sejarah Kompetisi

score.co.id - Perbandingan Jumlah Trofi Arema dan Persebaya selalu menjadi bahan perdebatan tanpa akhir di kalangan pecinta sepak bola nasional. Dua raksasa Jawa Timur ini tidak hanya menyajikan rivalitas panas di atas lapangan, dari gemuruh Stadion Kanjuruhan hingga gelegar Gelora Bung Tomo, tetapi juga persaingan sengit dalam lemari piala. Pertarungan gengsi antara Singo Edan dan Bajul Ijo ini melampaui sekadar tiga poin; ini adalah soal harga diri dan supremasi regional yang telah mendarah daging selama beberapa dekade. Setiap pertemuan adalah final, setiap musim adalah babak baru dalam sejarah panjang mereka. Namun, jika kita menyingkirkan sejenak atmosfer membara di tribun dan fokus pada data konkret, siapa yang sesungguhnya lebih unggul dalam koleksi gelar? Data terbaru per April 2026 menunjukkan sebuah narasi yang kompleks, di mana satu pihak mendominasi era klasik, sementara yang lain menjelma menjadi raja di era modern.

Dominasi Klasik Bajul Ijo di Era Legendaris

Sejarah mencatat, Persebaya Surabaya adalah kekuatan dominan jauh sebelum era Liga Indonesia modern dimulai. Fondasi kejayaan mereka tertanam kuat di era Perserikatan, sebuah kompetisi yang sarat dengan gengsi kedaerahan dan dianggap sebagai kasta tertinggi sepak bola amatir di tanah air. Tim kebanggaan Bonek ini secara total mengoleksi 6 gelar di level teratas, sebuah pencapaian yang menempatkan mereka dalam jajaran elite klub-klub historis Indonesia. Gelar-gelar pada tahun 1951, 1952, 1978, dan 1987/88 menjadi bukti sahih bagaimana Persebaya menjadi barometer sepak bola nasional. Puncak kejayaan mereka berlanjut saat memasuki era semi-profesional dengan menjuarai Divisi Utama Liga Indonesia pada musim 1996-97 dan kembali mengulanginya pada 2004. Gelar terakhir di tahun 2004 menjadi penanda penting, sebuah mahkota penutup era sebelum kompetisi bertransformasi total menjadi format liga yang lebih modern seperti Indonesia Super League (ISL).
Selebrasi emosional skuad Persebaya Surabaya saat memastikan gelar juara Liga Indonesia pada musim 2004.

Kebangkitan Singo Edan sebagai Raja Era Modern

Di sisi lain, Arema FC membangun reputasinya sebagai kekuatan baru yang menggebrak di era yang berbeda. Meski memiliki satu trofi Galatama dari musim 1992-93, ledakan prestasi Singo Edan terjadi secara masif pada milenium baru. Klub kebanggaan Aremania ini membuktikan bahwa mereka bukan hanya pelengkap, melainkan penantang serius dalam perburuan gelar nasional. Momen paling ikonik dalam sejarah mereka adalah saat menjuarai Indonesia Super League (ISL) musim 2009-10. Gelar tersebut menjadi klimaks dari sebuah proyek tim yang solid dan didukung oleh fanatisme suporter yang luar biasa. Namun, kehebatan Arema tidak berhenti di situ. Mereka menjelma menjadi 'spesialis turnamen', terutama di ajang Piala Presiden. Dengan koleksi 4 trofi (2017, 2019, 2022, 2024), Arema memegang rekor sebagai pengumpul gelar terbanyak di turnamen pramusim paling bergengsi tersebut. Dominasi ini menegaskan mentalitas juara mereka dalam format kompetisi yang ketat dan bertekanan tinggi.

Berapa Kali Arema Menang Lawan Persebaya? Gengsi di Luar Lemari Trofi

Pertanyaan mengenai rekor pertemuan atau "berapa kali Arema menang lawan Persebaya" seringkali menjadi tolok ukur rivalitas yang lebih personal bagi para suporter. Meskipun perbandingan trofi memberikan gambaran besar tentang kesuksesan sebuah klub dalam satu musim penuh, hasil Derbi Jawa Timur memiliki bobot emosional yang berbeda. Kemenangan dalam laga ini seringkali dirayakan layaknya mengangkat piala. Statistik head-to-head memang menunjukkan fluktuasi, di mana kedua tim saling mengalahkan di berbagai era. Namun, esensi dari derbi ini bukanlah sekadar angka. Ini adalah tentang siapa yang berhak menepuk dada sebagai penguasa Jawa Timur hingga pertemuan berikutnya. Kemenangan di derbi bisa menyelamatkan satu musim yang buruk atau menjadi pemantik semangat untuk meraih prestasi yang lebih tinggi.
Momen ikonik Arema FC saat menjuarai Piala Presiden 2024, menegaskan status mereka sebagai raja turnamen pramusim.

Adu Rinci Koleksi Gelar Mayor Domestik

Untuk memberikan gambaran yang lebih jernih, mari kita bedah secara langsung koleksi trofi mayor domestik yang berhasil diraih kedua klub sepanjang sejarah kompetisi resmi di Indonesia.

Arema FC (Total 11 Gelar Mayor)

  • Liga Nasional Utama (3): Galatama (1992-93), Indonesia Super League (2009-10), Divisi Satu (2004).
  • Piala Nasional Mayor (8): Piala Indonesia (2005, 2006), Piala Presiden (2017, 2019, 2022, 2024), Inter Island Cup (2014).

Persebaya Surabaya (Total 13+ Gelar Mayor)

  • Liga Nasional Utama (6): Perserikatan/Divisi Utama (1951, 1952, 1978, 1987/88, 1996-97, 2004).
  • Divisi Satu/Liga 2 (3): 2003, 2006, 2017.
  • Piala Nasional Mayor (2): Piala Utama (1990), Piala Galatama (1970).

Analisis Akhir: Siapa Sesungguhnya Penguasa Jawa Timur?

Dari data yang tersaji, sebuah kesimpulan ditarik: Persebaya Surabaya unggul mutlak dalam perolehan gelar liga kasta tertinggi dengan perbandingan 6-3. Ini menegaskan status mereka sebagai raksasa historis dengan warisan prestasi yang panjang. DNA juara sudah tertanam sejak era perjuangan sepak bola Indonesia. Akan tetapi, Arema FC adalah penguasa tak terbantahkan di panggung sepak bola modern, terutama dalam 15 tahun terakhir. Dominasi mereka di Piala Presiden dan kesuksesan menjuarai ISL menunjukkan kemampuan adaptasi dan kekuatan finansial serta manajerial yang solid di era industri sepak bola. Jika Persebaya adalah sang legenda, maka Arema adalah sang penantang yang sukses membangun dinastinya sendiri. Pada akhirnya, gelar 'Raja Jawa Timur' menjadi subjektif. Apakah diukur dari kuantitas trofi liga sepanjang masa, atau dari dominasi di era yang lebih relevan saat ini? Jawabannya mungkin tergantung pada warna syal yang Anda kenakan. Debat tentang perbandingan jumlah trofi Arema dan Persebaya akan terus menjadi api yang membakar semangat rivalitas abadi ini. Untuk analisis lebih tajam dan data terkini seputar sepak bola nasional, terus ikuti pembaruan eksklusif hanya di score.co.id.