Dominasi Klasik Bajul Ijo di Era Legendaris
Sejarah mencatat, Persebaya Surabaya adalah kekuatan dominan jauh sebelum era Liga Indonesia modern dimulai. Fondasi kejayaan mereka tertanam kuat di era Perserikatan, sebuah kompetisi yang sarat dengan gengsi kedaerahan dan dianggap sebagai kasta tertinggi sepak bola amatir di tanah air. Tim kebanggaan Bonek ini secara total mengoleksi 6 gelar di level teratas, sebuah pencapaian yang menempatkan mereka dalam jajaran elite klub-klub historis Indonesia. Gelar-gelar pada tahun 1951, 1952, 1978, dan 1987/88 menjadi bukti sahih bagaimana Persebaya menjadi barometer sepak bola nasional. Puncak kejayaan mereka berlanjut saat memasuki era semi-profesional dengan menjuarai Divisi Utama Liga Indonesia pada musim 1996-97 dan kembali mengulanginya pada 2004. Gelar terakhir di tahun 2004 menjadi penanda penting, sebuah mahkota penutup era sebelum kompetisi bertransformasi total menjadi format liga yang lebih modern seperti Indonesia Super League (ISL).
Baca Juga: Kejutan Persija di El Clasico: Nasib Pamungkas dan Kwon Chang-hoon Lawan Persib Masih Menggantung
Kebangkitan Singo Edan sebagai Raja Era Modern
Di sisi lain, Arema FC membangun reputasinya sebagai kekuatan baru yang menggebrak di era yang berbeda. Meski memiliki satu trofi Galatama dari musim 1992-93, ledakan prestasi Singo Edan terjadi secara masif pada milenium baru. Klub kebanggaan Aremania ini membuktikan bahwa mereka bukan hanya pelengkap, melainkan penantang serius dalam perburuan gelar nasional. Momen paling ikonik dalam sejarah mereka adalah saat menjuarai Indonesia Super League (ISL) musim 2009-10. Gelar tersebut menjadi klimaks dari sebuah proyek tim yang solid dan didukung oleh fanatisme suporter yang luar biasa. Namun, kehebatan Arema tidak berhenti di situ. Mereka menjelma menjadi 'spesialis turnamen', terutama di ajang Piala Presiden. Dengan koleksi 4 trofi (2017, 2019, 2022, 2024), Arema memegang rekor sebagai pengumpul gelar terbanyak di turnamen pramusim paling bergengsi tersebut. Dominasi ini menegaskan mentalitas juara mereka dalam format kompetisi yang ketat dan bertekanan tinggi.Berapa Kali Arema Menang Lawan Persebaya? Gengsi di Luar Lemari Trofi
Pertanyaan mengenai rekor pertemuan atau "berapa kali Arema menang lawan Persebaya" seringkali menjadi tolok ukur rivalitas yang lebih personal bagi para suporter. Meskipun perbandingan trofi memberikan gambaran besar tentang kesuksesan sebuah klub dalam satu musim penuh, hasil Derbi Jawa Timur memiliki bobot emosional yang berbeda. Kemenangan dalam laga ini seringkali dirayakan layaknya mengangkat piala. Statistik head-to-head memang menunjukkan fluktuasi, di mana kedua tim saling mengalahkan di berbagai era. Namun, esensi dari derbi ini bukanlah sekadar angka. Ini adalah tentang siapa yang berhak menepuk dada sebagai penguasa Jawa Timur hingga pertemuan berikutnya. Kemenangan di derbi bisa menyelamatkan satu musim yang buruk atau menjadi pemantik semangat untuk meraih prestasi yang lebih tinggi.
Adu Rinci Koleksi Gelar Mayor Domestik
Untuk memberikan gambaran yang lebih jernih, mari kita bedah secara langsung koleksi trofi mayor domestik yang berhasil diraih kedua klub sepanjang sejarah kompetisi resmi di Indonesia.Arema FC (Total 11 Gelar Mayor)
- Liga Nasional Utama (3): Galatama (1992-93), Indonesia Super League (2009-10), Divisi Satu (2004).
- Piala Nasional Mayor (8): Piala Indonesia (2005, 2006), Piala Presiden (2017, 2019, 2022, 2024), Inter Island Cup (2014).
Persebaya Surabaya (Total 13+ Gelar Mayor)
- Liga Nasional Utama (6): Perserikatan/Divisi Utama (1951, 1952, 1978, 1987/88, 1996-97, 2004).
- Divisi Satu/Liga 2 (3): 2003, 2006, 2017.
- Piala Nasional Mayor (2): Piala Utama (1990), Piala Galatama (1970).