Sejarah Kelam Terungkap: Sebenarnya Apa Penyebab Arema dan Bonek Bermusuhan?

score.co.id - Apa Penyebab Arema dan Bonek Bermusuhan terus menjadi pertanyaan abadi bagi setiap penikmat sepak bola Tanah Air yang baru menyelami panasnya atmosfer Derbi Jawa Timur. Pertanyaan ini tidak akan pernah usang, bahkan ketika kalender telah menunjukkan bulan Maret 2026. Rivalitas antara Aremania dan Bonek selalu memancarkan aura magis, sebuah percampuran antara fanatisme buta, cinta identitas, dan sayangnya, rentetan tragedi berdarah yang mengukir sejarah kelam di atas rumput hijau. Kondisi terkini memang menunjukkan tren yang jauh lebih sejuk. Sepanjang tahun 2026 ini, tidak ada laporan insiden kekerasan fisik yang melibatkan kedua kubu raksasa tersebut. Derbi Jatim tetaplah sebuah panggung teater yang menegangkan, namun pasca-Tragedi Kanjuruhan yang meremukkan hati dunia pada 2022 silam, nada perdamaian mulai lebih sering digaungkan dari kedua belah pihak. Mari kita tengok laga terakhir yang mempertemukan Persebaya Surabaya dan Arema FC pada November 2025 lalu. Pertandingan yang digelar di Gelora Bung Tomo tersebut berakhir dengan skor imbang 1-1. Ribuan Bonek memadati tribun setelah memenangkan 'war tiket' yang begitu fenomenal, menciptakan koreografi luar biasa tanpa sedikit pun memicu kerusuhan berarti. Aparat keamanan memang berjaga dengan lapis baja, memastikan tidak ada celah bagi provokator untuk merusak jalannya pertandingan. Hingga detik ini, fokus kedua kelompok suporter perlahan mulai bergeser. Mereka kini lebih peduli pada posisi klub kebanggaan di papan klasemen Liga 1, menuntut prestasi alih-alih merawat dendam. Kendati demikian, gengsi teritorial antara kota pahlawan dan kota apel itu masih menyala terang di bawah permukaan.

Bukan Sekadar Urusan Bola Bundar

Membongkar akar konflik ini memaksa kita untuk keluar dari batas garis lapangan sepak bola. Banyak yang mengira permusuhan ini murni karena persaingan taktik antara Persebaya dan Arema. Fakta sejarah justru berbicara lain. Bibit kebencian ini disemai dari gesekan ego kedaerahan yang kemudian meledak melalui insiden-insiden kecil di luar stadion. Kota Surabaya dan Malang memiliki karakter sosiologis yang saling bertolak belakang. Surabaya adalah kota pelabuhan yang panas, keras, dan bergerak dengan ritme metropolitan yang tanpa ampun. Masyarakatnya memegang teguh prinsip "Bondho Nekat" atau modal nekat, sebuah filosofi bertahan hidup di tengah kerasnya persaingan pesisir. Malang hadir dengan wajah yang sama sekali berbeda. Dikelilingi pegunungan dengan udara yang sejuk, Malang tumbuh sebagai kota pendidikan dan industri yang elegan. Namun, jangan salah sangka, pemuda Malang memiliki kebanggaan luar biasa terhadap identitas mereka. Simbol "Singo Edan" bukanlah sekadar logo, melainkan representasi keberanian dan jiwa pantang menyerah khas Arek Malang. Ketika dua entitas dengan kebanggaan setinggi langit ini bersinggungan dalam jarak geografis yang begitu dekat, percikan sekecil apa pun bisa memicu kebakaran hutan yang dahsyat. Dan percikan pertama itu, ironisnya, sama sekali tidak ada hubungannya dengan sepak bola.

Malam Mencekam di Konser Kantata Takwa 1990

Jarum jam sejarah harus kita putar mundur ke tanggal 23 Januari 1990. Malam itu, Stadion Tambaksari di Surabaya yang merupakan markas keramat milik Persebaya, disulap menjadi arena konser megah. Grup musik legendaris Kantata Takwa, yang digawangi oleh Iwan Fals, Sawung Jabo, hingga Setiawan Djodi, menggelar pertunjukan di sana. Puluhan ribu penonton tumpah ruah. Musik mengalun keras, membius jiwa-jiwa muda yang haus akan hiburan dan kebebasan berekspresi. Di tengah lautan manusia tersebut, sekelompok pemuda dari Malang berhasil merangsek hingga ke area paling depan panggung. Mereka, dengan dada membusung, mulai meneriakkan yel-yel kebanggaan daerah mereka. "Arema! Arema! Arema!" teriakan itu menggema, membelah bisingnya distorsi gitar di atas panggung. Bagi Arek Suroboyo yang merasa sebagai tuan rumah di Tambaksari, teriakan tersebut adalah sebuah tantangan terbuka. Mengumandangkan nama kota lain di jantung pertahanan Bonek dianggap sebagai bentuk pelecehan harga diri. Emosi yang tadinya diredam oleh alunan musik Iwan Fals mendadak berubah menjadi amarah yang tak terbendung. Baku hantam pun pecah tepat di bawah sorot lampu panggung. Ribuan pasang mata menjadi saksi bagaimana konser musik berubah menjadi arena gladiator. Kericuhan tidak berhenti di dalam stadion. Massa yang marah saling kejar dan lempar batu hingga keluar area Tambaksari, menjalar menyusuri jalanan malam Surabaya hingga mencapai titik kulminasi di Stasiun Gubeng. Dua tahun berselang, tepatnya pada 1992, memori kelam itu terulang kembali di tempat yang sama. Kali ini, konser band metal asal Brasil, Sepultura, menjadi panggung pertumpahan darah kedua. Polanya hampir serupa, gesekan ego antara pemuda Surabaya dan Malang memicu tawuran massal yang semakin menebalkan tembok kebencian di antara kedua kubu.

Tragedi Mata Nurkiman dan Luka yang Tak Pernah Kering

Jika konser musik adalah percikan api pertama, maka insiden yang menimpa salah satu pahlawan lapangan hijau Surabaya adalah bensin yang menyiram kobaran api tersebut. Memasuki awal dekade 1990-an, tensi panas dari panggung hiburan akhirnya benar-benar menular ke tribun stadion sepak bola. Sebuah laga tandang mempertemukan Persebaya melawan Persema Malang. Atmosfer pertandingan sudah terasa mencekam sejak peluit pertama dibunyikan. Intimidasi dari tribun penonton tidak hanya berupa cacian, melainkan serangan fisik yang membabi buta. Benda-benda keras beterbangan dari arah tribun menuju lapangan dan area bangku cadangan. Nahas bagi Nurkiman, salah satu pemain andalan Persebaya saat itu. Sebuah batu tajam yang diduga kuat dilontarkan menggunakan ketapel oleh oknum suporter tuan rumah, melesat dan menghantam wajahnya dengan telak. Jeritan kesakitan memecah hiruk-pikuk stadion. Darah segar mengucur deras dari wajah sang pemain. Dampak dari serangan pengecut tersebut sungguh menghancurkan. Nurkiman harus kehilangan penglihatan di salah satu matanya secara permanen. Karier sepak bolanya yang tengah bersinar redup seketika. Ia terpaksa gantung sepatu di usia yang masih sangat produktif, meninggalkan mimpi-mimpi besarnya di atas meja operasi. Bagi publik Surabaya, ini bukan sekadar cedera olahraga. Ini adalah sebuah pengkhianatan terhadap nilai-nilai sportivitas dan serangan langsung terhadap martabat kota. Dendam kesumat pun tertanam kuat di sanubari setiap Bonek. Sejak hari itu, nama Malang tidak lagi sekadar rival, melainkan musuh bebuyutan yang harus dihadapi dengan segala cara.

Perang Narasi dan Kecemburuan Media Jatim

Konflik yang berdarah-darah di jalanan dan stadion ternyata juga merambat ke ruang-ruang redaksi. Media massa di Jawa Timur pada era 90-an hingga 2000-an dituding turut andil dalam memanaskan situasi, meski mungkin tidak disengaja. Sentralisasi media cetak raksasa yang berpusat di Surabaya membuat porsi pemberitaan sering kali terlihat timpang. Prestasi sekecil apa pun yang diraih oleh Persebaya kerap menghiasi halaman utama dengan foto-foto berwarna yang megah. Narasi kepahlawanan "Green Force" dibangun dengan sangat masif setiap harinya. Publik Malang yang membaca koran yang sama merasa dianaktirikan. Aremania merasa klub kebanggaan mereka "dikucilkan" dari gegap gempita pemberitaan regional. Kecemburuan media ini melahirkan gerakan perlawanan kultural. Aremania mulai membangun jaringan komunikasi mandiri, menciptakan buletin-buletin suporter, dan meneriakkan eksistensi mereka dengan cara yang lebih agresif. Mereka ingin membuktikan kepada seluruh Jawa Timur bahwa "Singo Edan" tidak bisa dibungkam oleh dominasi mesin cetak dari Surabaya. Memasuki era milenium baru, eskalasi konflik mencapai titik nadir. Tawuran tidak lagi membutuhkan alasan. Setiap kali Persebaya bertandang ke Malang, atau sebaliknya, stasiun kereta api akan berubah menjadi zona perang. Bendera kebesaran lawan dirampas dan dibakar di tengah stadion sebagai bentuk penghinaan tertinggi. Rivalitas sepak bola telah bertransformasi sepenuhnya menjadi perang identitas yang brutal.

1 Oktober 2022: Puncak Air Mata di Kanjuruhan

Sejarah panjang permusuhan ini pada akhirnya menagih tumbal yang teramat mahal. Dunia sepak bola modern tidak akan pernah bisa menghapus memori kelam yang terjadi pada 1 Oktober 2022. Hari itu, Stadion Kanjuruhan di Kabupaten Malang menjadi saksi bisu dari tragedi suporter terburuk di abad ke-21. Arema FC harus menelan pil pahit kekalahan 2-3 dari sang rival abadi, Persebaya Surabaya, di kandang sendiri. Peluit panjang wasit seolah menjadi alarm kehancuran. Ribuan Aremania yang kecewa melompati pagar pembatas, menginvasi lapangan hijau untuk meluapkan rasa frustrasi mereka kepada para pemain dan manajemen. Respons aparat keamanan dalam mengendalikan massa justru memicu bencana kemanusiaan. Tembakan gas air mata dimuntahkan secara sporadis, tidak hanya ke arah lapangan yang menjadi pusat kerumunan, tetapi juga diarahkan langsung ke tribun-tribun penonton yang terkunci rapat. Asap putih pekat yang menyesakkan dada menyelimuti stadion. Kepanikan massal meledak. Puluhan ribu manusia berdesakan mencari jalan keluar melalui pintu sempit yang sebagian besar belum terbuka sepenuhnya. Jeritan minta tolong, tangisan anak-anak, dan rintihan kesakitan menggema di udara malam Kanjuruhan. Oksigen menipis, nyawa pun melayang satu per satu dalam himpitan yang tak berbelas kasih. Sebanyak 135 nyawa manusia, mayoritas adalah Aremania, terenggut malam itu. Sementara 583 lainnya menderita luka-luka fisik dan trauma psikologis yang mungkin tidak akan pernah sembuh seumur hidup. Meskipun banyak pihak menyoroti kelalaian prosedur keamanan dan penggunaan gas air mata yang menyalahi aturan FIFA, kita tidak bisa menutup mata bahwa akar dari intensitas laga tersebut adalah rivalitas buta yang dipelihara selama puluhan tahun. "Malam itu, kami di Surabaya menangis. Rivalitas kami hanya sebatas 90 menit di atas rumput. Tidak ada satu pun kemenangan yang sebanding dengan hilangnya satu nyawa manusia, apalagi ratusan," ucap seorang tokoh senior Bonek dalam sebuah forum diskusi pasca-tragedi, menggambarkan betapa Kanjuruhan telah menampar kesadaran semua pihak.

Harapan Baru di Tahun 2026

Kini, empat tahun setelah malam jahanam di Kanjuruhan, lanskap sepak bola Jawa Timur mulai menata puing-puing kehancurannya. Tragedi tersebut memaksa seluruh pemangku kepentingan untuk merenung dan bertindak. Inisiatif perdamaian terus dirajut oleh para pentolan suporter, pemerintah daerah Jawa Timur, hingga federasi PSSI. Bonek dan Aremania sebenarnya memiliki satu kesamaan nasib: mereka sama-sama menjadi korban stigma kekerasan yang menempel selama puluhan tahun. Di balik atribut hijau dan biru yang mencolok, mereka adalah masyarakat pekerja keras yang menjadikan sepak bola sebagai satu-satunya pelarian dari penatnya kehidupan sehari-hari. Regulasi tegas masih diberlakukan. Setiap kali Derbi Jatim digelar, kuota tiket dibatasi secara ketat, dan kebijakan larangan hadir bagi suporter tim tamu (away fans) masih dipertahankan demi meminimalisir sekecil apa pun potensi gesekan. Keputusan ini mungkin mengurangi estetika atmosfer pertandingan, namun nyawa manusia jelas jauh lebih berharga daripada gemuruh tribun sesaat. Jejak sejarah memang tidak bisa dihapus. Percikan api di Tambaksari tahun 1990, hilangnya mata Nurkiman, hingga lautan air mata di Kanjuruhan adalah bagian dari DNA sepak bola Jawa Timur. Namun, sejarah tersebut harusnya menjadi guru yang paling kejam agar kita tidak mengulangi kebodohan yang sama di masa depan. Arema FC dan Persebaya Surabaya akan terus berdiri gagah sebagai dua raksasa tak terbantahkan di ujung timur Pulau Jawa. Bonek dan Aremania akan selalu dikenang sebagai kelompok suporter paling legendaris, paling fanatik, dan paling militan yang pernah dilahirkan oleh ibu pertiwi. Mari kita rayakan rivalitas ini dengan akal sehat. Silakan berteriak lantang mendukung tim kebanggaan, silakan adu kreativitas koreografi di atas tribun. Gaspol Arema! Gaspol Persebaya! Namun di atas segalanya, jaga nyawa, dan rawat persaudaraan kemanusiaan kita. Pantau terus update terbaru hanya di score.co.id.