Tim Mana yang Mengalahkan Southampton 9/0? Ini Sejarah Pembantaian Terburuk di Liga Inggris
Β· sukro score.co.id
score.co.id - Tim Mana yang Mengalahkan Southampton 9/0 hingga kini masih menjadi salah satu pertanyaan paling ikonis bagi para penikmat sejarah kelam sepak bola Inggris. Bayangkan sebuah tim kasta tertinggi harus memungut bola dari gawangnya sendiri sebanyak sembilan kali dalam satu pertandingan berdurasi 90 menit. Fakta yang jauh lebih menyakitkan, penderitaan tersebut tidak hanya dirasakan sekali oleh armada The Saints. Mereka adalah satu-satunya entitas dalam buku rekam jejak Premier League modern yang harus menanggung rasa malu dengan margin kekalahan masif tersebut sebanyak dua kali dalam kurun waktu kurang dari dua tahun.
Malam Kelam di St Mary's: Amukan Serigala Leicester
Jumat malam tanggal 25 Oktober 2019 seharusnya menjadi laga kandang rutin bagi publik St Mary's Stadium. Langit pesisir selatan Inggris kala itu seolah memberikan firasat buruk akan datangnya sebuah badai besar bagi tuan rumah. Skuad asuhan Ralph Hasenhuttl hancur lebur tanpa ampun di hadapan puluhan ribu pendukungnya sendiri yang terdiam membisu.
Leicester City datang bukan sekadar untuk mencuri poin penuh, melainkan untuk mengukir dominasi absolut. Rentetan gol demi gol bersarang dengan begitu mudahnya menembus jala gawang tuan rumah. Kelengahan lini belakang Southampton dihukum secara brutal oleh agresivitas barisan serang The Foxes yang tampil bak kesetanan sejak peluit awal dibunyikan wasit.
Hasil akhir menunjukkan angka yang rasanya mustahil terpampang di papan skor kompetisi seketat Liga Inggris: 0-9. Leicester City tidak hanya membawa pulang tiga poin berharga malam itu menuju East Midlands. Mereka sukses memecahkan rekor kemenangan tandang terbesar sepanjang eksistensi sejarah kasta tertinggi sepak bola di daratan Inggris.
"Malam itu kami merasa seperti tidak menginjak tanah lapangan. Setiap kali kami mencoba membangun ritme permainan, mereka merebut bola dan langsung mengubahnya menjadi gol. Rasanya waktu berjalan begitu lambat, seperti mimpi buruk yang enggan berakhir," ujar salah satu mantan staf pelatih Southampton mengenang tragedi memilukan tersebut.
Mengingat Kembali Skor Paling Mencolok dalam Sejarah Premier League
Tragedi Teater Impian: Ketika Setan Merah Menunjukkan Taringnya
Banyak pengamat sepak bola meyakini bahwa kekalahan sembilan gol tanpa balas adalah anomali langka yang mungkin hanya terjadi satu kali seumur hidup bagi sebuah klub. Nahasnya, takdir berkata lain bagi tim berseragam merah putih ini. Tepat pada 2 Februari 2021, luka lama yang belum sepenuhnya mengering kembali dikoyak secara paksa.
Lawatan ke Old Trafford, markas kebesaran Manchester United, berubah haluan menjadi ladang pembantaian berikutnya. Bencana sudah tercium tajam sejak menit kedua pertandingan berjalan. Gelandang muda Alexandre Jankewitz melakukan tekel horor yang memaksa pengadil lapangan mencabut kartu merah langsung. Bermain dengan sepuluh orang di hadapan Setan Merah yang sedang memburu gelar jelas merupakan sebuah misi bunuh diri.
Keunggulan jumlah pemain dieksploitasi habis-habisan oleh armada yang saat itu diarsiteki Ole Gunnar Solskjaer. Serangan datang bergelombang tanpa henti dari segala penjuru lapangan hijau. Lini pertahanan The Saints yang kehilangan arah hanya bisa terpaku melihat jala gawang mereka terus bergetar hebat.
Keputusasaan memuncak ketika palang pintu andalan mereka, Jan Bednarek, turut diusir keluar lapangan hijau. Insiden ini memaksa tim tamu mengakhiri laga dengan hanya sembilan pemain tersisa yang sudah kehabisan napas. Pertandingan usai dengan skor identik 9-0, menyamai rekor kemenangan terbesar Manchester United di era Premier League yang sebelumnya diukir oleh Sir Alex Ferguson.
"Kami tahu mereka terluka sejak menit awal dan insting pembunuh para pemain kami langsung menyala tajam. Saat skor menyentuh angka empat atau lima, para pemain tetap berlari mencari bola seolah kedudukan masih imbang tanpa gol," ungkap sumber internal dari kubu Manchester United yang berada di lorong ganti malam itu.
Melihat kembali dua tragedi memilukan tersebut, muncul pertanyaan mendasar mengenai ketahanan mental dan struktur taktis tim. Kalah dalam sebuah pertandingan adalah hal lumrah dalam kerasnya olahraga kompetitif. Membiarkan lawan mencetak hingga sembilan gol adalah indikator runtuhnya sistem permainan secara total dari segala lini.
Pada kedua laga tersebut, terlihat jelas pola kejatuhan psikologis yang nyaris serupa. Begitu gol ketiga atau keempat bersarang, bahasa tubuh para pemain Southampton langsung berubah drastis. Kepala tertunduk lesu, komunikasi antarlini terputus total, dan hilangnya daya juang untuk sekadar merapatkan barisan pertahanan.
Manajemen ruang ganti gagal total membendung kepanikan kolektif yang menjalar bagai virus. Instruksi dari pinggir lapangan tidak lagi terdengar di tengah gemuruh perayaan para pemain lawan. Skuad The Saints seolah menyerah pada nasib, membiarkan diri mereka menjadi samsak hidup bagi para penyerang kelas dunia yang haus akan rekor individu.
Daftar Elit Skor 9-0 Sepanjang Era Premier League
Kekalahan beruntun Southampton memang menjadi sorotan utama dalam lembar sejarah modern, namun mereka bukanlah satu-satunya tim yang pernah merasakan pedihnya dilumat sembilan gol. Sejarah panjang Premier League menyimpan beberapa momen fantastis lainnya yang masuk dalam buku rekor margin kemenangan paling mutlak.
Momen bersejarah pertama tercipta pada tanggal 4 Maret 1995 silam. Manchester United yang kala itu dihuni oleh generasi emas sukses membantai Ipswich Town dengan skor 9-0 di teater impian Old Trafford. Laga ini dikenang abadi berkat penampilan heroik penyerang legendaris Andy Cole yang memborong lima gol sekaligus dalam satu pertandingan.
Lompat jauh ke era sepak bola modern, giliran Liverpool yang unjuk gigi memamerkan daya ledak lini serangnya yang menakutkan. Tepat pada tanggal 27 Agustus 2022, ribuan publik Anfield disuguhkan pesta gol spektakuler saat menjamu tim promosi Bournemouth. The Reds tampil sangat dominan meredam perlawanan tim tamu dari awal hingga peluit panjang dibunyikan.
Kemenangan masif 9-0 tersebut resmi menjadi rekor kemenangan kandang terbesar Liverpool yang berhasil menyamai rekor liga. Pertandingan itu menjadi bukti sahih betapa lebarnya jurang kualitas teknis antara tim penantang gelar juara dengan klub-klub yang berjuang keras sekadar untuk bertahan di kasta tertinggi.
Kehancuran Berlanjut: Degradasi Paling Tragis Musim 2024/2025
Bayang-bayang kelam pembantaian masa lalu ternyata terus menghantui perjalanan Southampton dalam beberapa tahun terakhir. Momentum kebangkitan yang sempat dibangun perlahan-lahan kembali runtuh berkeping-keping hingga mencapai titik nadir pada musim kompetisi 2024/2025 lalu.
Tim yang bermarkas di pesisir selatan ini harus menerima kenyataan pahit turun kasta ke divisi Championship. Ironisnya, proses degradasi mereka diwarnai oleh rekor buruk baru yang mungkin akan sangat sulit dilupakan oleh para pendukung setianya. Skuad racikan pelatih Ivan Juric tampil sangat mengecewakan dan kehilangan arah sepanjang musim bergulir.
Puncak dari segala nestapa tersebut terjadi pada bulan April 2025. Melawat ke markas Tottenham Hotspur yang megah, The Saints dituntut meraih kemenangan magis demi menjaga asa tipis untuk bertahan hidup. Harapan tersebut hancur tak bersisa setelah mereka takluk tanpa perlawanan berarti dengan skor 1-3 dari tim tuan rumah.
Kekalahan menyakitkan di London Utara itu menjadi vonis mati bagi kelangsungan hidup Southampton. Mereka dipastikan menjadi tim pertama yang terdegradasi dari gemerlapnya Premier League musim tersebut. Fakta yang paling menyayat hati adalah kecepatan mereka terlempar dari persaingan elit kompetisi.
The Saints mencatatkan rekor memalukan sebagai tim paling cepat terdegradasi ketika liga baru saja memasuki pekan ke-31. Kepastian turun kasta di saat kompetisi masih menyisakan tujuh pertandingan penuh adalah tamparan keras sekaligus bukti nyata hancurnya sistem manajemen dan kualitas komposisi pemain secara keseluruhan.
Dampak Finansial dan Psikologis Bagi Para Pendukung Setia
Membahas kehancuran sebuah klub sepak bola tentu tidak bisa dilepaskan dari peran dan penderitaan para pendukungnya di tribune. Suporter Southampton telah menunjukkan tingkat kesabaran yang luar biasa selama bertahun-tahun. Mereka tetap setia memenuhi kursi stadion meski tim kesayangannya kerap kali menjadi bulan-bulanan tim raksasa yang tidak kenal ampun.
Melihat tim kebanggaan dilumat dengan margin sembilan gol bukan sekadar rasa malu sesaat yang hilang dalam satu akhir pekan. Ejekan dan cemoohan tajam dari pendukung lawan terus menggema di berbagai platform media sosial hingga ke pub-pub lokal di seluruh penjuru Inggris. Stigma sebagai tim yang mudah remuk menempel erat layaknya bayangan hitam yang sulit dihilangkan.
Dari kacamata finansial, terlemparnya mereka ke kasta kedua membawa dampak yang sangat destruktif bagi neraca keuangan klub. Hilangnya pendapatan masif dari hak siar televisi global Premier League memaksa manajemen melakukan efisiensi besar-besaran. Pemotongan gaji pemain bintang, pemutusan kontrak staf pelatih, hingga penjualan aset berharga menjadi jalan keluar pahit yang harus ditempuh.
Banyak sponsor utama perlahan mulai menarik diri atau meminta negosiasi ulang atas nilai kontrak yang telah disepakati sebelumnya. Daya tarik komersial klub menurun drastis seiring dengan merosotnya prestasi mereka di atas lapangan hijau. Ini adalah siklus mengerikan yang sering kali menelan banyak klub bersejarah terjerembap ke dalam jurang kebangkrutan yang dalam.
Mencari Jalan Pulang Menuju Kasta Tertinggi
Kini, publik sepak bola hanya bisa mengenang sejarah manis klub yang pernah melahirkan nama-nama besar seperti Gareth Bale, Theo Walcott, hingga sang legenda Alan Shearer ini. Mengarungi kerasnya kompetisi divisi Championship bukanlah perkara mudah bagi tim yang mentalitasnya tengah terpuruk hebat. Butuh perombakan total dari segi struktur manajemen, staf kepelatihan, hingga perombakan komposisi pemain utama.
Luka menganga akibat kekalahan 9-0 dari Leicester City dan Manchester United akan selalu tertulis abadi dalam lembaran kelam sejarah klub. Tragedi degradasi dini yang memalukan di musim 2024/2025 semakin melengkapi penderitaan entitas sepak bola yang identik dengan seragam merah putih ini.
Tantangan terbesar bagi jajaran direksi klub saat ini adalah mengembalikan mentalitas pemenang yang telah lama menguap entah ke mana. Membangun ulang kerangka skuad dengan mengandalkan talenta muda dari akademi yang selama ini menjadi kebanggaan tunggal mereka bisa menjadi satu-satunya jembatan rasional untuk kembali ke habitat aslinya.
Pantau terus update terbaru hanya di score.co.id