Ronaldo Puasa gelar berapa tahun
score.co.id. Empat tahun sembilan bulan. Itulah durasi Cristiano Ronaldo tidak mencicipi manisnya gelar juara mayor sejak terakhir kali mengangkat trofi Coppa Italia bersama Juventus pada 19 Mei 2021. Angka ini bukan sekadar statistik kosong bagi pemain yang membangun seluruh kariernya di atas fondasi kemenangan dan obsesi terhadap trofi. Bagi CR7, puasa gelar sepanjang ini adalah anomali, sebuah gangguan dalam matriks kariernya yang biasanya bergelimang emas. Dunia sepak bola mengenal Ronaldo sebagai pemenang serial. Namun, sejak menginjakkan kaki di Arab Saudi pada Januari 2023, narasi besar yang menyertainya justru tentang kegagalan di saat-saat krusial. Al Nassr memang sempat berpesta saat menjuarai Arab Club Champions Cup pada Agustus 2023. Masalahnya, turnamen regional itu tidak diakui sebagai gelar mayor oleh otoritas sepak bola internasional dan media arus utama seperti Marca atau GOAL. Di level domestik Arab Saudi, Ronaldo masih "nol besar". Ia sudah melewati 13 turnamen resmi bersama Al Nassr tanpa satu pun piala mayor di genggaman. Dua kali runner-up liga, kegagalan di final Kingβs Cup, hingga tersingkir di Liga Champions Asia menjadi catatan merah yang terus membayangi sang kapten Portugal. Kini, di usia yang hampir menyentuh 41 tahun, tekanan untuk mengakhiri paceklik ini kian memuncak.
Menelusuri Jejak Terakhir Kejayaan di Turin
Mari kita tarik mundur ke belakang. Tanggal 19 Mei 2021 adalah momen terakhir dunia melihat Ronaldo berselebrasi dengan trofi mayor yang diakui secara global. Saat itu, Juventus mengalahkan Atalanta di final Coppa Italia. Ronaldo tidak mencetak gol di final tersebut, tapi pengaruhnya sepanjang musim tetap krusial. Siapa sangka, itu adalah kepingan perak terakhir yang masuk ke lemari trofinya hingga hari ini. Setelah meninggalkan Juventus, periode kedua di Manchester United berubah menjadi mimpi buruk kolektif. Alih-alih membawa "Setan Merah" kembali ke jalur juara, Ronaldo justru terjebak dalam pusaran konflik internal dan penurunan performa tim secara keseluruhan. United nihil gelar selama masa baktinya yang singkat itu. Kepindahannya ke Riyadh diharapkan menjadi solusi instan bagi dahaga trofi sang pemain dan klub barunya. Namun, realita di lapangan berbicara lain. Liga Pro Saudi ternyata bukan tempat untuk "pensiun santai". Persaingan di sana sangat brutal, terutama dengan dominasi Al Hilal yang sulit dipatahkan. Ronaldo secara individu tetap mengerikan. Ia masih rutin mencetak gol, melakukan selebrasi "Siu" yang ikonik, dan memecahkan rekor demi rekor pribadi. Namun, sepak bola adalah olahraga tim, dan di situlah letak masalahnya."Statistik individu hanyalah angka jika tidak dibarengi dengan medali di leher. Ronaldo tahu itu, dan itulah yang membuatnya tetap terjaga di malam hari."
Polemik Arab Club Champions Cup: Gelar Resmi atau Sekadar Pemanasan?
Banyak fans Ronaldo membela diri dengan menunjuk trofi Arab Club Champions Cup 2023 sebagai bukti ia sudah juara di Arab Saudi. Secara administratif, turnamen ini memang diakui oleh AFC. Ronaldo bahkan menjadi pahlawan dengan dua golnya di partai final melawan Al Hilal. Namun, dalam kasta sepak bola profesional, gelar ini sering disandingkan dengan turnamen pramusim bergengsi, bukan kompetisi resmi utama. Media internasional tetap pada pendiriannya: puasa gelar mayor Ronaldo tetap berlanjut. Mengapa? Karena standar yang ditetapkan untuk pemain sekelas CR7 adalah liga domestik, piala liga nasional, atau kompetisi kontinental kasta tertinggi seperti AFC Champions League. Tanpa salah satu dari itu, karier Ronaldo di Timur Tengah akan dianggap kurang lengkap oleh para kritikus. Ketegasan media dalam memilah trofi mayor dan regional ini sebenarnya adalah bentuk penghormatan terhadap level Ronaldo sendiri. Pemain dengan lima Ballon d'Or tidak seharusnya hanya merayakan gelar regional. Ia datang ke Arab Saudi untuk mengubah peta kekuatan sepak bola Asia, dan itu hanya bisa dibuktikan dengan trofi liga atau Liga Champions Asia.Rincian Karier Emas yang Kini Meredup
Jika kita melihat totalitas kariernya, Ronaldo telah mengoleksi 35 trofi senior. Angka yang fantastis. Di Sporting CP, ia memulai dengan satu trofi. Di Manchester United (periode pertama), ia menggila dengan 9 trofi termasuk Liga Champions. Puncaknya ada di Real Madrid dengan 15 trofi, di mana ia mengukuhkan diri sebagai raja Eropa. Di Juventus, meski dianggap gagal oleh sebagian orang karena tak bisa memberikan gelar Liga Champions, ia tetap menyumbangkan 6 trofi domestik. Penurunan drastis terjadi saat ia kembali ke Inggris dan kemudian pindah ke Saudi. Di Al Nassr, kolom trofi mayornya masih kosong. Ini adalah periode terkering dalam karier profesional Ronaldo sejak ia pertama kali menembus skuad utama Sporting dua dekade silam. Statistik menunjukkan bahwa Ronaldo telah mengikuti 13 kompetisi resmi bersama Al Nassr. Dari semua itu, ia harus puas melihat tim lain mengangkat piala. Kegagalan di Super Cup dan Kingβs Cup musim lalu sangat menyakitkan karena Al Nassr sebenarnya memiliki skuad yang sangat mumpuni. Ronaldo sering terlihat frustrasi di lapangan, sebuah emosi alami dari seorang pemenang yang benci kekalahan.Musim 2025/2026: Cahaya di Ujung Terowongan?
Baca Juga: Kandidat Favorit Ballon d'Or 2026 Versi Michel Platini Bikin Gempar: Bukan Diisi Nama-Nama Biasa
Kabar baiknya bagi para pendukung CR7, musim 2025/2026 ini memberikan harapan baru. Hingga akhir Februari 2026, Al Nassr memimpin klasemen Saudi Pro League dengan koleksi 58 poin dari 23 laga. Mereka unggul tipis dari Al Ahli dan rival abadi, Al Hilal. Ini adalah posisi terbaik yang pernah ditempati Ronaldo sejak bergabung dengan klub yang bermarkas di KSU Stadium tersebut.
Ronaldo sendiri sedang on fire. Koleksi 21 gol di liga membuktikan bahwa meski fisiknya mulai dimakan usia, insting membunuhnya di kotak penalti tidak pernah luntur. Ia bukan lagi pemain yang berlari kencang dari sayap, melainkan predator yang menunggu umpan matang untuk diselesaikan dengan satu sentuhan mematikan. Perubahan gaya main ini terbukti efektif menjaga efisiensinya di depan gawang.
Masih ada 11 laga sisa di liga, ditambah kompetisi Kingβs Cup dan AFC Champions League yang masih berjalan. Peluang untuk meraih treble atau setidaknya satu gelar mayor sangat terbuka lebar. Jika Al Nassr berhasil menjaga konsistensi dan menghindari badai cedera, musim ini bisa menjadi akhir dari puasa gelar 4 tahun 9 bulan yang menyiksa tersebut.