Memori Pahit 2010 dan Pelajaran Berharga
Optimisme Okto bukan tanpa dasar. Ia berkaca pada pengalamannya di edisi 2010, di mana semangat juang dan kekompakan menjadi kunci utama. Saat itu, Skuad Garuda hanya diperkuat satu pemain naturalisasi, Cristian Gonzales. Namun, para pemain lokal mampu menunjukkan kualitas dan bersaing di level tertinggi. Ia membandingkan situasi tersebut dengan kondisi tim saat ini yang dihuni banyak pemain diaspora berkualitas. Menurutnya, ini bukan halangan, melainkan tantangan positif bagi talenta lokal untuk membuktikan diri. Kompetisi internal yang sehat justru akan memperkuat tim."Dulu pada 2010, pemain lokal mampu bersaing dengan pemain naturalisasi. Sekarang, dengan adanya pemain diaspora, kesempatan itu tetap ada asalkan pemain lokal bisa memanfaatkan peluang dan bekerja keras," tegas Okto.Harapan ini menjadi begitu krusial mengingat catatan kelam Timnas Indonesia di turnamen dua tahunan ini. Skuad Garuda seolah selalu bernasib sial, dengan rekor enam kali menjadi runner-up dari 15 kali partisipasi tanpa sekalipun mengangkat trofi. Sebuah anomali yang harus segera diakhiri.
Baca Juga: Rencana Timnas Indonesia ke Yordania November Nanti: PSSI Beri Respons soal FIFA Matchday
Tantangan Grup A dan Tangan Dingin Herdman
Perjuangan untuk menjadi kampiun tentu tidak akan mudah. Hasil undian menempatkan Indonesia di Grup A yang terbilang berat. Pasukan John Herdman akan berhadapan langsung dengan rival bebuyutan, Timnas Vietnam. Selain itu, ada pula kuda hitam seperti Singapura dan Kamboja, serta pemenang laga kualifikasi antara Brunei Darussalam atau Timor Leste. Menghadapi Vietnam selalu menjadi laga sengit dengan tensi tinggi. Rekor pertemuan kedua tim sangat ketat, namun di bawah arahan Herdman, Indonesia menunjukkan tren positif. Kemampuan sang juru taktik asal Inggris dalam meramu strategi dan mengelola skuad menjadi harapan besar bagi publik sepak bola tanah air. Kemampuan Herdman memadukan pemain berpengalaman dengan talenta muda diharapkan menjadi pembeda. Ia dituntut untuk menciptakan harmoni antara pemain lokal dan diaspora, persis seperti yang disorot oleh Okto Maniani.