Pemain atalanta yang diselingkuhi Mengingat Kembali Kisah Pilu Josip Ilicic

Pemain atalanta yang diselingkuhi

score.co.id - Β Josip Ilicic sedang berada di puncak dunia ketika tiba-tiba ia menghilang dari radar sepak bola Eropa pada tahun 2020, memicu badai rumor tentang perselingkuhan sang istri yang ternyata menyembunyikan luka psikologis jauh lebih dalam dari sekadar gosip murahan. Saat itu, Atalanta sedang terbang tinggi di Liga Champions, dan Ilicic adalah pilot utamanya. Namun, di balik gol-gol indahnya, tersimpan kerapuhan seorang manusia yang dihantam trauma kolektif dan depresi berat yang nyaris mengakhiri kariernya secara prematur. Dunia mengenal Josip Ilicic sebagai "The Poet of Bergamo". Kakinya punya sihir. Visi bermainnya melampaui logika pemain Serie A pada umumnya. Tapi, tepat saat Atalanta bersiap menghadapi Paris Saint-Germain di perempat final Liga Champions 2020, sang penyair mendadak bungkam. Ia tidak cedera otot. Ia tidak terkena sanksi. Ia hanya pergi. Dan di sinilah narasi liar itu bermula, menyebar secepat virus di media sosial, termasuk di Indonesia.

Narasi Perselingkuhan: Antara Fakta dan Karangan Media

Narasi Perselingkuhan: Antara Fakta dan Karangan Media Agustus 2020 menjadi bulan yang sangat berisik bagi keluarga Ilicic. Rumor yang beredar saat itu sangat spesifik dan menyakitkan. Kabarnya, Ilicic sengaja pulang diam-diam ke Slovenia untuk memberikan kejutan bagi istrinya, Tina Polovina. Namun, bukannya pelukan hangat yang didapat, ia justru disebut-sebut memergoki Tina sedang bersama pria lain di rumah mereka sendiri. Cerita ini laku keras. Media-media besar di Italia hingga Indonesia mengemasnya sebagai "kisah pilu pengkhianatan". Efek dari berita ini sangat masif. Ilicic dilaporkan mengalami depresi berat akibat kejadian tersebut. Ia kehilangan berat badan secara drastis. Wajahnya yang biasanya penuh konsentrasi berubah menjadi layu dan kosong. Orang-orang percaya bahwa trauma dikhianati oleh orang tercinta adalah alasan mengapa sang bintang Atalanta itu ingin pensiun dini di usia 32 tahun. Namun, benarkah semua itu terjadi? Ataukah kita semua hanya terjebak dalam drama yang sengaja diciptakan untuk mempermudah penjelasan atas sesuatu yang jauh lebih kompleks? Kenyataannya, narasi "diselingkuhi" ini tidak pernah terbukti secara hukum maupun pengakuan langsung saat itu. Ilicic memilih diam seribu bahasa. Diamnya Ilicic justru menjadi bensin bagi api rumor. Publik lebih suka percaya pada cerita pengkhianatan cinta daripada kenyataan pahit tentang gangguan kesehatan mental yang dipicu oleh tragedi kemanusiaan yang sedang terjadi di depan matanya.

Tragedi Bergamo: Peti Mati, Truk Militer, dan Ketakutan Akan Kematian

Mari kita tarik mundur ke awal 2020. Bergamo, markas Atalanta, adalah titik nol ledakan COVID-19 di Italia. Kota yang indah itu berubah menjadi kota hantu dalam semalam. Suara ambulans meraung-raung setiap menit. Yang paling membekas dalam ingatan kolektif dunia adalah iring-iringan truk militer yang mengangkut ratusan peti mati karena krematorium setempat sudah tidak sanggup lagi menampung jenazah. Ilicic melihat itu semua. Ia tinggal di sana. Isolasi selama 42 hari sendirian di apartemennya tanpa keluarga menjadi pemicu utama kehancuran mentalnya. Ilicic bukan pemain bola biasa yang hanya peduli pada gaji. Ia adalah sosok yang sangat sensitif. Baginya, melihat kematian massal di depan mata membangkitkan trauma masa lalu. Ingatan akan perang di Balkan dan kematian mendadak sahabatnya, Davide Astori, kembali menghantui tidurnya. Davide Astori, mantan kapten Fiorentina yang meninggal dalam tidurnya pada 2018, adalah luka yang belum sembuh bagi Ilicic. Ketika pandemi melanda, ketakutan terbesar Ilicic adalah ia akan mati sendirian di apartemennya, persis seperti Astori. Ia mengalami serangan panik yang hebat. Baginya, sepak bola, uang, dan kontrak jutaan Euro menjadi sampah tidak berguna saat ia merasa ajal menjemput di setiap sudut kota Bergamo.

Klarifikasi yang Membungkam Semua Gosip

Setelah bertahun-tahun menjadi bahan spekulasi, Ilicic akhirnya buka suara secara gamblang pada akhir 2025 melalui wawancara mendalam dengan Journal of Sport dan Sky Italia. Ia tidak lagi menahan diri. Ia ingin membersihkan nama istrinya yang selama bertahun-tahun dicap sebagai "wanita pengkhianat" oleh netizen di seluruh dunia.
"Mereka bilang istriku selingkuh. Tidak ada yang benar dari cerita itu. Bayangkan jika aku benar-benar memergoki istriku dengan orang lain? Dia mendapat hinaan yang mengerikan selama bertahun-tahun, padahal dia tidak pantas mendapatkannya. Dia adalah pilar kekuatanku saat aku merasa dunia runtuh."
Ilicic menjelaskan bahwa penyebab ia menghilang adalah murni masalah kesehatan mental yang dipicu oleh trauma pandemi dan isolasi. Ia merasa terjebak dalam kegelapan. Ia bahkan sempat ditawari sejumlah uang besar oleh media-media tabloid untuk menceritakan "versi drama" dari hidupnya, namun ia menolak mentah-mentah. Ia lebih memilih untuk terlihat lemah karena depresi daripada membiarkan fitnah terhadap keluarganya terus berlanjut demi uang. Ini adalah pelajaran keras bagi industri media. Kita seringkali mencari kambing hitam yang mudah dipahami, seperti perselingkuhan, karena isu kesehatan mental dianggap terlalu abstrak atau "kurang menjual". Ilicic adalah korban dari sistem yang menuntut atlet untuk selalu menjadi pahlawan tanpa celah, sementara di balik seragam bernomor 72 itu, ada pria yang hanya ingin memeluk anak-anaknya di tengah ketakutan akan kiamat kecil di Italia utara.

Puncak Karier yang Terenggut di Malam Valencia

Sangat menyedihkan jika mengingat betapa hebatnya Ilicic tepat sebelum depresi itu datang. Musim 2019/2020 adalah mahakarya Ilicic. Ia mencetak 15 gol di Serie A dan melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan pemain manapun sebelumnya di Liga Champions: mencetak empat gol dalam satu pertandingan babak gugur di kandang lawan saat melawan Valencia. Malam di Mestalla itu adalah bukti kejeniusannya. Ia mencetak gol dengan kaki kiri, kaki kanan, dan penalti. Ia menari di antara bek-bek Valencia seolah mereka hanya tiang jemuran. Gian Piero Gasperini, pelatih Atalanta, menyebut Ilicic sebagai pemain yang tidak bisa digantikan. Tanpa Ilicic, Atalanta kehilangan nyawa kreatifnya. Dan benar saja, saat menghadapi PSG di perempat final tanpa Ilicic, Atalanta kalah secara dramatis di menit-menit akhir. Banyak yang percaya, jika Ilicic ada di lapangan, sejarah Liga Champions mungkin akan berbeda. Ilicic bukan hanya pencetak gol. Ia adalah dirigen. Ia tahu kapan harus menahan bola dan kapan harus melepaskan umpan terobosan yang membelah pertahanan lawan. Kehilangan Ilicic bukan sekadar kehilangan satu pemain, tapi kehilangan identitas bermain bagi tim berjuluk La Dea tersebut. Namun, Gasperini dan manajemen Atalanta menunjukkan sisi kemanusiaan yang luar biasa. Mereka tidak memutus kontraknya, mereka justru memberinya waktu untuk pulang dan sembuh.

Bangkit dari Abu: Perjalanan Pulang ke Slovenia

Proses pemulihan Ilicic tidak berjalan instan. Ia sempat kembali bermain untuk Atalanta pada 2021, bahkan sempat mencetak beberapa gol lagi. Namun, luka mental itu kembali menganga pada awal 2022. Ia kembali absen karena masalah yang sama. Di titik ini, baik klub maupun pemain sadar bahwa lingkungan Italia, dengan segala kenangan pahit pandeminya, bukan lagi tempat yang sehat bagi Ilicic. Pada tahun 2022, kontraknya diputus atas kesepakatan bersama. Sebuah perpisahan yang mengharukan terjadi di Stadion Gewiss. Ribuan fans Atalanta memberikan standing ovation bagi sang legenda yang terlihat emosional. Ilicic memutuskan untuk pulang ke Slovenia, bergabung kembali dengan klub lamanya, NK Maribor, dan kemudian NK Koper. Keputusan untuk pulang adalah kunci kesembuhannya. Jauh dari sorotan lampu stadion San Siro atau Olimpico, Ilicic menemukan kedamaian dalam kesederhanaan liga Slovenia. Ia bermain bukan lagi untuk mengejar trofi Ballon d'Or atau kontrak mahal, melainkan untuk kebahagiaan murni menendang bola di tanah kelahirannya. Di sana, ia kembali menjadi Josip yang ceria, dekat dengan istri dan anak-anak perempuannya yang selama ini ia lindungi dari fitnah media.

Keajaiban Euro 2024 dan Masa Tua yang Bahagia

Siapa yang menyangka bahwa di usia 36 tahun, Josip Ilicic akan kembali ke panggung internasional? Pelatih timnas Slovenia, Matjaz Kek, membuat kejutan dengan memanggil Ilicic ke skuad Euro 2024. Ini bukan sekadar pemanggilan karena rasa hormat, tapi karena Ilicic memang masih punya "sihir" itu di kakinya bersama NK Maribor. Melihat Ilicic masuk ke lapangan di Euro 2024 adalah momen kemenangan bagi para penyintas depresi di seluruh dunia. Ia membuktikan bahwa kesehatan mental bisa dikelola, dan karier yang sempat hancur bisa dibangun kembali meski tidak lagi sama persis. Ia bermain dengan senyum yang lebih lepas. Beban berat di pundaknya seolah sudah menguap. Hingga Februari 2026, Ilicic masih aktif bermain bersama NK Koper di liga Slovenia pada usia 37 tahun. Ia secara terbuka menyatakan bahwa dirinya sudah "pulang" dalam arti yang sesungguhnya. Bukan hanya pulang ke negaranya, tapi pulang ke jati dirinya yang tenang. Ia tidak lagi peduli dengan apa yang ditulis tabloid tentang kehidupan pribadinya. Baginya, kebenaran sudah terucap, dan itu sudah cukup.

Pelajaran Berharga dari Kisah Ilicic

Kisah Josip Ilicic adalah pengingat keras bagi kita semua, terutama para penikmat sepak bola. Di balik angka-angka statistik, nilai transfer yang selangit, dan selebrasi gol yang ikonik, ada manusia biasa yang punya titik jenuh. Kita seringkali terlalu cepat menghakimi tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik pintu tertutup. Rumor perselingkuhan yang sempat menghancurkan reputasi keluarganya hanyalah satu dari sekian banyak contoh betapa kejamnya dunia informasi saat ini. Ilicic memilih jalan yang sulit: diam, menderita, sembuh, lalu bicara kebenaran. Ia tidak membalas kebencian dengan kebencian, melainkan dengan pembuktian di lapangan hijau dan kesetiaan pada keluarganya. Bagi Atalanta, ia akan selalu menjadi "The Poet". Bagi Slovenia, ia adalah legenda hidup. Dan bagi dunia kesehatan mental, ia adalah simbol harapan bahwa kegelapan sedalam apapun tidak akan pernah benar-benar bisa mematikan cahaya seseorang jika ia punya keberanian untuk mencari bantuan dan pulang ke rumah.

Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Sepak Bola

Perjalanan Josip Ilicic mengajarkan kita bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kebugaran fisik bagi seorang atlet profesional. Isu perselingkuhan yang sempat viral terbukti hanya isapan jempol yang lahir dari ketidakmampuan publik memahami trauma mendalam. Kini, Ilicic menikmati sisa kariernya dengan damai, meninggalkan warisan bukan hanya berupa gol-gol indah, tapi juga keberanian untuk menjadi rapuh. Pantau terus berita terbaru di score.co.id.