Pasca Transfer Donnarumma Berujung Penyesalan: Penampilan PSG Makin Melempem

SCORE.CO.ID - Musim lalu, Paris Saint-Germain berdiri di puncak Eropa. Pasukan Luis Enrique menyapu bersih kompetisi domestik dengan memenangkan Ligue 1 dan Coupe de France, lalu melaju perkasa di Liga Champions. Tampaknya, pasca transfer Donnarumma, PSG kehilangan taji dan tidak lagi menempati posisi puncak.

PSG Menyapu Bersih Kompetisi Domestik

Kesuksesan PSG tentu melahirkan banyak pahlawan. Ousmane Dembele menjadi bintang utama setelah mencatatkan 35 gol dan 16 assist di semua kompetisi.Β  Desire Doue tampil sebagai salah satu talenta muda paling menjanjikan di dunia, sementara Khvicha Kvaratskhelia langsung mencuri perhatian setelah bergabung dari Napoli pada pertengahan musim. Sementara di sisi pertahanan, Nuno Mendes mendapat pujian luas karena sukses meredam hampir semua winger elit yang dihadapi. Namun di balik semua sorotan tersebut, ada satu sosok penting yang justru luput dari perhatian, yakni Gianluigi Donnarumma. Padahal, tanpa sang kiper Italia, kisah indah PSG mungkin tidak akan pernah terjadi. Dalam perjalanan Liga Champions saja, Donnarumma menjadi pahlawan di beberapa momen krusial.Β  Ia menggagalkan dua penalti Liverpool dalam drama adu penalti di babak 16 besar. Selain itu, total 15 penyelamatan gemilangnya membantu PSG melewati Aston Villa dan Arsenal di fase gugur. Dengan kontribusi sebesar itu, banyak yang mengira Donnarumma akan menjadi pemain yang tak tergantikan di Parc des Princes. Namun yang terjadi justru sebaliknya, PSG secara mengejutkan memutuskan untuk menjualnya pada bursa transfer musim panas.

Pasca Transfer Donnarumma

Donnarumma Kiper Man City
Donnarumma Kiper Man City
Tak lama pasca transfer Donnarumma, PSG mendatangkan kiper Lille, Lucas Chevalier, dengan biaya sekitar 55 juta euro. Kiper asal Prancis itu langsung diikat kontrak lima tahun, menandakan bahwa klub benar-benar menjadikannya sebagai pilihan utama. Dalam hal distribusi bola, Chevalier memang unggul. Statistik Ligue 1 musim lalu menunjukkan ia mencatat lebih dari 700 umpan sukses, jauh di atas Donnarumma. Dalam hal penyelamatan dan penguasaan area penalti, Donnarumma jelas lebih unggul. Fakta ini tampaknya tidak terlalu dipertimbangkan dalam keputusan klub. Meski PSG berhasil memenangkan UEFA Super Cup lewat adu penalti melawan Tottenham, Chevalier sempat melakukan kesalahan fatal yang berujung gol lawan. Kesalahan serupa kembali terjadi saat PSG menghadapi Marseille di laga Le Classique. Salah perhitungan dalam membaca bola membuat situasi kacau di kotak penalti. Kini, banyak yang mulai bertanya-tanya, apakah PSG terlalu cepat melepas kiper terbaik mereka? Jika performa tim terus menurun, keputusan menjual Donnarumma bisa saja dikenang sebagai salah satu kesalahan transfer paling membingungkan dalam sejarah modern PSG.