score.co.id - Rival Terbesar di Everton bukanlah sebuah misteri yang sulit dipecahkan bagi para penikmat sepak bola tanah Britania. Jawaban dari pertanyaan tersebut akan selalu bermuara pada satu nama yang menggetarkan seisi kota pelabuhan ini: Liverpool FC. Keduanya terikat dalam sebuah permusuhan abadi bertajuk Merseyside Derby, sebuah perseteruan sedarah yang membelah kota menjadi dua warna dominan, merah dan biru.
Merseyside Derby tidak pernah sekadar menyajikan 22 pemain yang mengejar bola di atas rumput hijau. Bentrokan ini adalah sebuah manifestasi dari perang saudara, adu gengsi, dan perebutan tahta penguasa kota. Jarak kedua markas bersejarah mereka bahkan membentang kurang dari satu mil, hanya dipisahkan oleh rimbunnya pepohonan di Stanley Park.
Bagi para pendukung Everton, yang memiliki julukan kebanggaan The Toffees, mengalahkan Liverpool adalah sebuah harga mati. Kemenangan dalam partai derby sering kali terasa lebih manis daripada sekadar meraih tiga poin di liga. Rivalitas ini telah mendarah daging, diturunkan dari kakek ke ayah, lalu dari ayah ke anak, melintasi berbagai generasi sejak abad ke-19.
Akar Pahit Sebuah Pengkhianatan di Tahun 1892
Untuk memahami seberapa dalam kebencian dan persaingan ini, kita harus memutar waktu kembali ke penghujung abad ke-19. Rivalitas ini tidak lahir dari persaingan trofi semata, melainkan dari sebuah konflik internal yang sarat akan intrik politik, sengketa finansial, dan perebutan kekuasaan. Semuanya bermula pada tahun 1892.
Saat itu, Everton sebenarnya adalah penguasa sah dari stadion Anfield. Mereka menyewa lapangan tersebut dari seorang pengusaha bir lokal sekaligus politisi bernama John Houlding. Masalah mulai mendidih ketika Houlding memutuskan untuk menaikkan harga sewa secara drastis, memicu amarah dari dewan direksi Everton yang merasa diperas oleh pemilik tanah mereka sendiri.
Dewan direksi The Toffees menolak tunduk pada tuntutan Houlding. Mereka memilih angkat kaki dari Anfield, menyeberangi taman, dan membangun sebuah rumah baru yang kelak dikenal sebagai Goodison Park. Houlding tiba-tiba mendapati dirinya memiliki sebuah stadion megah namun tidak memiliki tim yang bermain di sana.
Berangkat dari rasa sakit hati dan ambisi bisnis, Houlding akhirnya mendirikan klub sepak bola baru untuk mengisi kekosongan Anfield. Klub tersebut ia beri nama Liverpool Football Club. Sejak detik itu, garis pertempuran ditarik secara permanen. Everton dan Liverpool resmi menjadi musuh bebuyutan.
Pertemuan Pertama yang Mengukir Sejarah
Setelah perpisahan yang penuh drama tersebut, takdir akhirnya mempertemukan kedua tim ini di atas lapangan hijau. Tanggal 13 Oktober 1894 menjadi hari yang monumental bagi publik sepak bola kota Liverpool. Goodison Park menjadi saksi bisu bentrokan perdana antara kubu biru dan merah dalam kompetisi resmi.
Hari itu, Everton sukses membuktikan supremasi mereka sebagai "klub asli" kota tersebut. The Toffees melumat Liverpool dengan skor telak 3-0 di hadapan puluhan ribu pendukungnya yang bersorak kegirangan. Kemenangan tersebut seolah menjadi sebuah pernyataan tegas dari Everton bahwa mereka tidak akan pernah membiarkan tetangga baru mereka merebut takhta.
Semenjak laga bersejarah di musim gugur 1894 itu, Merseyside Derby terus berevolusi menjadi laga klasik yang paling dinanti. Fakta membuktikan bahwa derby ini memegang rekor sebagai pertemuan terpanjang di kasta tertinggi sepak bola Inggris. Sejak musim 1962/1963, laga adu gengsi ini tidak pernah terputus sedetik pun dari jadwal divisi teratas.
Statistik dan Hegemoni H2H: Siapa yang Benar-benar Berkuasa?
Menilik catatan statistik sepanjang masa memberikan gambaran yang jelas mengenai dinamika persaingan kedua tim. Berdasarkan pembaruan data terkini per 20 September 2025, menuju paruh akhir musim 2025/2026, duel bertajuk Merseyside Derby ini telah mementaskan 247 episode yang mendebarkan.
Dalam kurun waktu lebih dari satu abad tersebut, Liverpool memegang kendali dominasi secara keseluruhan. Si Merah telah mengantongi 101 kemenangan, sementara Everton baru mencatatkan 68 kemenangan manis. Sisa 78 pertandingan lainnya harus berakhir dengan hasil imbang, sebuah bukti betapa alotnya pertarungan di antara keduanya.
Urusan produktivitas gol juga masih berpihak pada kubu Anfield. Liverpool tercatat telah mengoyak jala gawang Everton sebanyak 348 kali di semua kompetisi. Di kubu seberang, The Toffees berhasil melesakkan 272 gol ke gawang sang rival abadi.
Dominasi Liverpool memang terasa sangat masif, terutama jika kita membedah era sepak bola modern dalam dua dekade terakhir. Namun, Goodison Park selalu menyimpan tuah tersendiri bagi tuan rumah. Di stadion legendaris beraksen kayu tersebut, Everton kerap kali tampil kesetanan, memaksa Liverpool pulang dengan hasil imbang atau bahkan menelan kekalahan pahit yang merusak musim mereka.
Rekor Ikonik dan Hujan Kartu Merah di Merseyside
Sebuah derby tidak akan lengkap tanpa deretan rekor dan momen ikonik yang terus diceritakan di kedai-kedai bir kota Liverpool. Ada banyak catatan sejarah yang membuat rivalitas Everton dan Liverpool terasa begitu istimewa dibandingkan derby London atau Manchester.
Bagi pendukung The Toffees, kutukan Anfield adalah salah satu pil paling pahit yang harus ditelan. Bayangkan saja, Everton pernah melewati masa kelam di mana mereka tidak pernah merasakan kemenangan di markas Liverpool sejak tahun 1999. Rekor 23 laga tanpa kemenangan secara beruntun antara tahun 2011 hingga 2020 menjadi bukti betapa angkernya Anfield bagi skuad biru.
Di buku sejarah pencetak gol, nama legenda Liverpool Ian Rush bertengger di posisi puncak tak tersentuh. Striker mematikan asal Wales itu telah menyarangkan 25 gol ke gawang Everton sepanjang kariernya. Sementara itu, untuk urusan loyalitas, kiper legendaris Everton Neville Southall memegang rekor penampilan terbanyak di derby ini dengan catatan 41 pertandingan.
Satu hal yang paling mendefinisikan Merseyside Derby di era Premier League adalah brutalitas di atas lapangan. Status "friendly derby" yang disematkan karena keluarga sering kali terbagi dua dukungan (suami mendukung Everton, istri mendukung Liverpool) sama sekali tidak berlaku bagi para pemain.
Laga ini memegang rekor absolut sebagai pertandingan dengan jumlah kartu merah terbanyak dalam sejarah Premier League. Tekel-tekel horor, adu mulut, hingga konfrontasi fisik antar pemain menjadi pemandangan lumrah. Tensi yang mendidih ini selalu berhasil membakar emosi siapa pun yang turun ke lapangan.
Momen-Momen Magis yang Menolak Lupa
Sejarah juga mencatat berbagai momen dramatis yang menguras air mata dan meledakkan euforia. Publik tentu masih mengingat jelas partai Final FA Cup tahun 1986 dan 1989. Kedua laga puncak tersebut tidak hanya menyajikan sepak bola tingkat tinggi, tetapi juga menjadi simbol solidaritas warga kota pasca Tragedi Hillsborough.
Lalu ada drama epik di tahun 1991 saat kedua tim bermain imbang 4-4 di Anfield dalam ajang Piala FA. Pertandingan yang menguras fisik dan mental ini bahkan berujung pada pengunduran diri pelatih legendaris Liverpool, Kenny Dalglish, beberapa hari setelah laga usai.
Di era yang lebih modern, trauma masa lalu kerap menghantui Everton. Gol aneh Divock Origi pada menit ke-96 di tahun 2019, yang berawal dari kesalahan antisipasi Jordan Pickford, masih menjadi mimpi buruk. Namun, balasan setimpal hadir saat James Tarkowski mencetak gol penentu di masa *injury-time* pada awal tahun 2025 yang membuat Goodison Park nyaris runtuh karena sorakan penonton.
Dinamika Terkini: Jejak Musim 2024-2026
Memasuki periode 2024 hingga 2026, persaingan kedua tim kembali memanas dengan narasi-narasi baru. Tanggal 24 April 2024 akan selalu dikenang oleh para pendukung Everton. Malam itu, The Toffees sukses menghancurkan Liverpool dengan skor 2-0 di Goodison Park, sebuah kekalahan yang secara efektif membunuh harapan Liverpool untuk merengkuh gelar juara liga musim tersebut.
Momen emosional lainnya terjadi pada 12 Februari 2025. Laga tersebut tercatat dalam sejarah sebagai Merseyside Derby terakhir yang digelar di Goodison Park. Atmosfer stadion begitu magis dan haru. Pertandingan penuh gengsi itu berakhir dengan skor sama kuat 2-2, menjadi salam perpisahan yang pantas bagi stadion yang telah melayani Everton selama lebih dari satu abad.
Setelah itu, tensi berlanjut di Anfield. Pada 2 April 2025, Liverpool membalas dengan kemenangan tipis 1-0. Dominasi Si Merah berlanjut di musim kompetisi berikutnya saat mereka mengamankan kemenangan 2-1 pada 20 September 2025, mempertegas status mereka sebagai pesaing di papan atas.
Peta Kekuatan Saat Ini (Maret 2026)
Kini, kalender telah menunjukkan tanggal 4 Maret 2026. Kompetisi Premier League musim ini telah merampungkan 28 pekan pertandingan. Peta persaingan di klasemen sementara memberikan gambaran menarik mengenai kondisi terkini dari kedua klub kebanggaan Merseyside ini.
Liverpool saat ini bertengger di posisi ke-5 klasemen dengan raihan 48 poin dan selisih gol surplus 10. Pasukan Anfield masih harus berjuang keras memeras keringat demi mengejar tiket menuju kompetisi elit Eropa, baik itu Liga Champions maupun Europa League. Konsistensi menjadi pekerjaan rumah terbesar bagi pelatih mereka musim ini.
Kondisi yang jauh lebih positif justru sedang dinikmati oleh Everton. Sempat terseok-seok dan menjalani masa adaptasi yang brutal di awal dekade, The Toffees kini duduk nyaman di posisi ke-8 dengan koleksi 40 poin. Meski selisih gol mereka berada di angka minus satu, stabilitas di papan tengah atas ini adalah sebuah pencapaian masif bagi proyek pembangunan ulang skuad.
"Kami telah melewati badai terburuk. Anak-anak kini bermain dengan logo di dada mereka, bukan sekadar nama di punggung," ujar manajer imajiner Everton dalam sebuah konferensi pers baru-baru ini. "Melihat posisi kami sekarang, para penggemar berhak bermimpi lebih tinggi."
Babak Baru di Hill Dickinson Stadium
Fokus seluruh kota kini tertuju pada tanggal 18 April 2026. Laga ini bukan sekadar pertemuan derby biasa. Pertandingan ini akan menandai dimulainya era baru dalam sejarah rivalitas Everton dan Liverpool. Untuk pertama kalinya, adu taktik ini akan digelar di Hill Dickinson Stadium.
Stadion baru yang berlokasi di kawasan Bramley-Moore Dock ini berdiri megah menghadap perairan pelabuhan. Dengan kapasitas mencapai 52.769 tempat duduk, arena mutakhir ini dirancang untuk mengintimidasi lawan. Angin laut yang berhembus kencang berpadu dengan gemuruh puluhan ribu suporter dipastikan akan menciptakan neraka baru bagi armada Liverpool.
Pertanyaan besar kini menggantung di udara. Apakah kepindahan dari Goodison Park akan menghilangkan tuah kandang Everton? Ataukah arsitektur modern Hill Dickinson Stadium justru akan menjadi benteng kokoh yang mengawali era kejayaan baru bagi armada biru Merseyside?
Sebuah Warisan yang Tak Lekang oleh Waktu
Tidak ada perdebatan yang tersisa. Jika ada yang masih bertanya mengenai siapa rival utama The Toffees, jawabannya mutlak 100 persen adalah Liverpool FC. Keduanya berbagi sejarah yang sama, menghirup udara kota yang sama, dan hidup dalam ekosistem sepak bola yang saling melengkapi.
Sebutan "friendly derby" mungkin akan terus hidup di tribun penonton. Pemandangan ayah berbaju biru yang menggandeng anak berbaju merah berjalan menuju stadion akan selalu menjadi sisi romantis dari kota ini. Namun, ketika peluit *kick-off* dibunyikan, persahabatan itu ditanggalkan di ruang ganti. Yang tersisa hanyalah pertarungan harga diri selama 90 menit penuh.
Everton saat ini sedang menata ulang DNA mereka di stadion *dockside* yang megah. Mereka tidak lagi ingin sekadar menjadi bayang-bayang tetangga berisik mereka. Di kubu seberang, Liverpool tetap berdiri tegak sebagai kekuatan tradisional yang siap menerkam kapan saja.
Derby perdana di Hill Dickinson pada pertengahan April nanti akan menjadi halaman pertama dari buku sejarah baru. Apakah dewi fortuna akan tersenyum pada tuan rumah, ataukah tim tamu yang akan merusak pesta peresmian tersebut? Malam itu akan menjadi saksi bisu kembalinya pertunjukan sepak bola terpanas di daratan Inggris.
Siapa yang akan Anda dukung dalam pertempuran epik mendatang? Pantau terus update terbaru hanya di score.co.id.