Peran Hibrida: Senjata Rahasia Garuda Muda
Di bawah arahan Nova Arianto, peran Matthew Baker di Timnas Indonesia U-17 menjadi sangat dinamis. Meski kerap memulai laga sebagai bek kiri, ia seringkali bertransformasi sesuai kebutuhan taktik. Saat tim diserang, ia bisa masuk ke tengah untuk menjadi bek tengah ketiga dalam skema tiga bek sejajar, memanfaatkan kemampuan duel udaranya yang cukup baik untuk postur 1,76 meter. Kemampuannya tidak berhenti di situ. Saat Garuda Muda membangun serangan dari bawah (build-up), Baker juga piawai naik menjadi gelandang bertahan. Peran ini memungkinkannya mendistribusikan bola dengan visi bermain yang matang, sebuah anugerah bagi tim yang ingin menguasai permainan.
Baca Juga: Rencana Timnas Indonesia ke Yordania November Nanti: PSSI Beri Respons soal FIFA Matchday
Analisis mendalam dari tim score.co.id menyoroti kemiripan perannya dengan bintang Timnas senior, Jay Idzes, meski dengan sentuhan yang berbeda.
"Secara taktis, fleksibilitasnya di bek kiri, bek tengah, atau gelandang bertahan jadi senjata utama. Kaki kiri dominannya beri opsi passing variatif, memungkinkan build-up serangan terkendaliβmirip Jay Idzes, tapi lebih fleksibel."Fleksibilitas inilah yang membuat posisi Matthew Baker di Melbourne City juga sangat dihargai. Klub yang bernaung di bawah City Football Group ini dikenal gemar mengembangkan pemain serbabisa yang mampu beradaptasi dengan berbagai sistem permainan.
Masa Depan Cerah di Bawah City Football Group
Bakat luar biasa Baker tidak luput dari pantauan klubnya. Pada 30 September 2025, ia secara resmi menandatangani kontrak profesional pertamanya yang berdurasi tiga tahun hingga 2028, dengan opsi perpanjangan dua tahun. Sebuah langkah besar yang membawanya masuk ke tim U-23 Melbourne City. Direktur Akademi Melbourne City, Simon Zappia, bahkan secara terbuka menyatakan keyakinannya terhadap potensi sang pemain. "Kami sangat yakin ia bisa tampil di tim utama kami dalam beberapa tahun ke depan," ujarnya saat pengumuman kontrak.