Krisis Kemenangan! Inilah Masalah Utama PSIM Yogyakarta Hingga Jadi Raja Imbang
Β· sukro score.co.id
score.co.id - Masalah utama PSIM Yogyakarta akhirnya terkuak setelah performa mereka anjlok drastis di putaran kedua BRI Super League 2025/2026. Tren buruk yang berlanjut pekan ini pasca laga kontra PSM Makassar membuat sang juru taktik, Jean-Paul van Gastel, harus putar otak lebih keras, sementara manajemen melalui Direktur Utama Yuliana Tasno mengakui adanya kendala internal yang krusial.
Pelatih PSIM Yogyakarta, Jean-Paul van Gastel, tampak tegang memberikan arahan dari pinggir lapangan di tengah krisis kemenangan timnya.
Anjloknya Performa Laskar Mataram di Putaran Kedua
Laskar Mataram kini resmi menyandang gelar tak mengenakkan: "Si Raja Imbang". Julukan ini bukan tanpa alasan. Hingga pekan ke-27, mereka telah mengoleksi 11 hasil seri, terbanyak di antara seluruh kontestan liga. Catatan ini menjadi ironi, mengingat pada putaran pertama mereka sempat menjadi kuda hitam yang merangsek ke posisi lima besar klasemen.
Kondisi berbalik 180 derajat saat memasuki paruh kedua musim. Dari 10 laga yang telah dijalani, PSIM hanya mampu memetik satu kemenangan. Sisanya berakhir dengan lima kali imbang dan empat kekalahan. Akibatnya, posisi mereka melorot ke peringkat 9 dengan koleksi 38 poin, sebuah posisi yang rawan dan jauh dari target awal untuk bersaing di papan atas.
Skuad Pincang Jadi Biang Keladi?
Konsistensi menjadi barang mewah bagi PSIM Yogyakarta. Salah satu faktor utama yang diakui manajemen adalah kondisi skuad yang tidak pernah ideal. Direktur Utama PSIM, Yuliana Tasno, mengonfirmasi bahwa timnya sering tampil compang-camping akibat badai cedera dan akumulasi kartu.
"Kondisi skuad kami memang belum penuh. Ada pemain yang terkena kartu merah, ada juga yang cedera," ungkapnya. Situasi ini memaksa Jean-Paul van Gastel melakukan rotasi paksa di hampir setiap pertandingan. Kestabilan tim, terutama di lini belakang dan ketajaman para juru gedor, menjadi korban utama dari bongkar pasang pemain yang tak terhindarkan.
Meskipun performa tim sedang dalam sorotan tajam, sang pelatih menolak anggapan bahwa anak asuhnya kehilangan gairah untuk menang. Menurutnya, ancaman tergelincir ke zona degradasi sudah cukup menjadi pelecut semangat.
βSaya tidak berpikir tim saya kekurangan motivasi, karena kami masih belum aman. Poin yang bisa didapat lawan masih memungkinkan mereka menyamai jumlah poin kami. Jadi kami masih belum aman, dan kami menyadari itu. Jadi, tim saya jelas tidak kekurangan motivasi.β
Pernyataan Van Gastel sangat beralasan. Dengan sisa laga yang semakin menipis, mengumpulkan satu poin dari hasil imbang tidak lagi cukup. Laskar Mataram butuh kemenangan untuk mengamankan nasib mereka di kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Kegagalan mengubah hasil imbang menjadi tiga poin adalah penyakit kronis yang harus segera disembuhkan.
Jika tren negatif ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin PSIM yang sempat bermimpi menembus papan atas justru harus berjuang hingga titik darah penghabisan untuk lolos dari jerat degradasi. Fokus utama tim kini adalah mengakhiri puasa kemenangan dan melepaskan jubah "raja imbang" yang membebani.
Kapten tim memimpin huddle untuk memotivasi rekan-rekannya usai kembali meraih hasil imbang di laga tandang.
Tantangan besar menanti di sisa musim. Mampukah Laskar Mataram menemukan kembali sentuhan kemenangan mereka sebelum semuanya terlambat?
Bagaimana menurut Anda solusi dari masalah utama PSIM Yogyakarta ini? Sampaikan opinimu di kolom komentar score.co.id!