Manuel Akanji Agama: Profil, Biodata Lengkap, dan Fakta Menarik Bek Tangguh Manchester City

Manuel Akanji Agama: Profil, Biodata Lengkap

score.co.id - Manuel Obafemi Akanji tengah menikmati masa keemasan di Italia setelah dipinjamkan Manchester City ke Inter Milan pada September 2025 lalu. Bek asal Swiss ini bukan sekadar numpang lewat di Serie A. Hingga akhir Februari 2026, Akanji sudah mencatatkan 24 penampilan dengan sumbangan dua gol bagi Nerazzurri. Statistik ini membuktikan bahwa kualitasnya tetap terjaga meski sempat mengalami pasang surut, termasuk blunder saat melawan Bodo/Glimt di kompetisi Eropa. Kehadiran Akanji di Giuseppe Meazza memberikan warna baru bagi lini pertahanan asuhan Simone Inzaghi. Fleksibilitasnya yang luar biasa membuat Inzaghi punya banyak opsi taktik. Dia bisa dipasang sebagai bek tengah dalam skema tiga bek, atau digeser ke samping jika situasi mendesak. Publik Milan kini mulai mendesak manajemen untuk mengaktifkan opsi pembelian permanen dari Manchester City sebelum masa pinjamannya habis. City sendiri memagari sang pemain dengan kontrak hingga 2027, namun performa apiknya di Italia membuat nilai pasarnya kembali meroket.

Agama Manuel Akanji: Sisi Religius di Balik Sosok Rendah Hati

Agama Manuel Akanji: Sisi Religius di Balik Sosok Rendah Hati Banyak penggemar penasaran dengan sisi spiritual bek bertinggi 188 cm ini. Manuel Akanji adalah seorang pemeluk agama Kristen. Meski dia bukan tipe pemain yang sering mengumbar aktivitas religius di media sosial, latar belakang keluarganya mencerminkan nilai-nilai Kristiani yang kuat. Nama depan "Manuel" sendiri memiliki akar bahasa Ibrani yang berarti "Tuhan bersamamu", sebuah nama yang sangat populer di kalangan masyarakat Kristen Eropa. Akanji dikenal sebagai sosok yang sangat fokus pada keluarga dan jauh dari gaya hidup glamor yang berlebihan. Nilai-nilai kerendahhatian yang ia tunjukkan di dalam dan di luar lapangan sering dikaitkan dengan didikan religius dari kedua orang tuanya. Di komunitas fans Manchester City maupun Inter Milan, Akanji sering dipuji karena sikapnya yang profesional dan tenang, sebuah cerminan dari kedamaian spiritual yang ia miliki. Dia lebih memilih menghabiskan waktu bersama istri dan anaknya daripada berpesta di klub malam.
"Saya selalu berusaha tetap membumi. Sepak bola adalah pekerjaan saya, tapi keluarga dan keyakinan adalah apa yang membuat saya tetap tegar dalam situasi sulit sekalipun," ungkap Akanji dalam sebuah wawancara santai.

Biodata Lengkap Manuel Obafemi Akanji

Untuk mengenal lebih dekat sang pemain, berikut adalah rincian data diri Manuel Akanji yang perlu Anda ketahui:
Kategori Informasi Detail
Nama Lengkap Manuel Obafemi Akanji
Tanggal Lahir 19 Juli 1995 (Umur 30 Tahun)
Tempat Lahir Wiesendangen, Swiss
Tinggi Badan 188 cm
Kebangsaan Swiss (Memiliki keturunan Nigeria)
Klub Saat Ini Inter Milan (Pinjaman dari Manchester City)
Posisi Utama Bek Tengah (Bisa bermain sebagai bek sayap atau libero)
Nomor Punggung 25

Perjalanan Karier: Dari Swiss Menuju Puncak Dunia

Karier Akanji tidak melejit dalam semalam. Semuanya dimulai di klub lokal Swiss, FC Winterthur, pada tahun 2013. Bakatnya tercium oleh raksasa Swiss, FC Basel, yang kemudian memboyongnya pada 2015. Di Basel, Akanji mulai merasakan atmosfer kompetisi tingkat tinggi. Dua gelar Swiss Super League dan satu trofi Swiss Cup menjadi bukti dominasinya sebelum akhirnya Borussia Dortmund datang mengetuk pintu pada Januari 2018. Empat setengah musim di Bundesliga Jerman mengasah mental Akanji. Dortmund adalah panggung yang kejam bagi bek yang tidak konsisten, namun Akanji berhasil bertahan dan bahkan memenangkan DFB-Pokal pada 2021. Puncaknya terjadi pada musim panas 2022. Pep Guardiola melihat potensi besar dalam diri Akanji yang saat itu hanya dihargai Β£15 juta oleh Dortmund. Banyak yang meremehkan transfer ini, menyebutnya hanya sebagai "pelapis darurat". Kenyataannya justru berbanding terbalik. Akanji bertransformasi menjadi salah satu pembelian terbaik dalam sejarah Premier League dengan harga semurah itu. Dia menjadi pilar penting saat Manchester City meraih Treble Winner pada musim 2022/23. Kemampuannya memahami taktik rumit Pep Guardiola dalam waktu singkat membuat banyak pengamat berdecak kagum. Dia bukan cuma bek yang jago tekel, tapi juga inisiator serangan yang handal.

Darah Nigeria dan Nama "Obafemi"

Darah Nigeria dan Nama Obafemi Meski membela tim nasional Swiss, identitas Nigeria mengalir deras dalam darah Manuel Akanji. Ayahnya adalah seorang imigran asal Nigeria yang menetap di Swiss. Nama tengahnya, "Obafemi", bukanlah nama sembarangan. Nama itu diambil dari legenda sepak bola Nigeria, Obafemi Martins, yang dulu sangat disegani karena kecepatannya yang luar biasa. Ayah Akanji sangat mengagumi Martins dan berharap anaknya bisa sesukses sang idola di lapangan hijau. Akanji sangat bangga dengan akar budayanya. Di lengan kirinya, terdapat tato elang Nigeria yang besar, lengkap dengan detail bola dan mahkota. Tato ini bukan sekadar hiasan. Baginya, itu adalah simbol kekuatan dan penghormatan terhadap tanah leluhur. Dia sering mengatakan bahwa meskipun dia lahir dan besar di Swiss, sisi Nigeria dalam dirinya memberikan semangat juang yang berbeda saat bertanding.
"Saya mewakili Swiss di level internasional, itu adalah rumah saya. Namun, Nigeria adalah bagian dari jiwa saya. Tato elang ini mengingatkan saya dari mana asal keluarga saya," ujar Akanji dengan nada bangga.

Si Jenius Matematika di Lapangan Hijau

Satu hal yang membuat Akanji unik dibanding pesepak bola lainnya adalah kecerdasannya yang di atas rata-rata. Dia pernah mendemokan kemampuan menghitung cepat di sebuah acara televisi Swiss. Akanji bisa mengalikan angka-angka besar dalam hitungan detik, bahkan lebih cepat daripada pembawa acara yang menggunakan kalkulator. Kemampuan kognitif ini ternyata sangat berguna di lapangan. Sepak bola modern menuntut bek untuk mengambil keputusan dalam sepersekian detik. Akanji menggunakan "otak matematikanya" untuk membaca arah bola, memprediksi pergerakan lawan, dan menghitung sudut operan yang paling efektif. Pep Guardiola pernah memuji kecerdasan Akanji dalam memahami sistem *build-up* serangan City yang sangat kompleks. Baginya, memahami instruksi pelatih semudah menyelesaikan soal aritmatika sederhana. Sebelum fokus penuh menjadi pemain profesional, Akanji sempat menyelesaikan pelatihan sebagai "Kaufmann" atau pedagang di Swiss. Pendidikan formal ini memberikan landasan disiplin yang kuat baginya. Dia sadar bahwa karier di sepak bola bisa berakhir kapan saja, sehingga memiliki bekal intelektual adalah hal yang wajib. Sikap profesional inilah yang membuatnya jarang terlibat masalah disiplin atau kontroversi di luar lapangan.

Keluarga Atlet: Olahraga Sudah Mendarah Daging

Bakat atletik Manuel Akanji tidak jatuh jauh dari pohonnya. Ibunya adalah seorang mantan atlet tenis yang kompetitif. Kakak perempuannya, Sarah Akanji, juga bukan sosok sembarangan. Sarah adalah mantan pemain sepak bola profesional di Swiss yang kini banting setir ke dunia politik sebagai anggota Partai Sosial Demokrat Swiss. Adiknya pun sangat aktif dalam berbagai kegiatan olahraga. Lingkungan keluarga yang kompetitif namun suportif ini membentuk karakter Akanji sejak kecil. Mereka sering menghabiskan waktu luang dengan berolahraga bersama. Persaingan sehat di rumah membuatnya selalu ingin menjadi yang terbaik. Dukungan keluarga juga menjadi faktor kunci saat Akanji harus merantau ke Jerman, Inggris, dan kini Italia. Mereka adalah sistem pendukung utama yang menjaga mentalnya tetap stabil.

Versatile Monster: Mengapa Pep Guardiola Menyukainya?

Di Manchester City, Akanji sering disebut sebagai "John Stones kedua" karena kemampuannya bermain di berbagai posisi. Pep Guardiola sering menempatkannya sebagai bek tengah kiri, bek tengah kanan, bahkan bek sayap yang bertransformasi menjadi gelandang saat tim menguasai bola. Kemampuan operan jarak jauhnya sangat akurat, memungkinkan City melakukan transisi cepat dari bertahan ke menyerang. Selama di City, Akanji membantu klub meraih dua gelar Premier League, FA Cup, dan tentu saja Liga Champions. Dia adalah tipe bek yang tenang saat ditekan. Dia tidak panik meski dikerubungi pemain lawan di area pertahanan sendiri. Ketenangan inilah yang membuat rekan setimnya merasa aman. Saat pindah ke Inter Milan, kualitas ini tetap terjaga. Dia langsung nyetel dengan gaya main Serie A yang lebih mengedepankan taktik dan posisi.

Momen Pahit di Euro 2024 dan Mentalitas Baja

Tidak semua perjalanan Akanji berjalan mulus. Salah satu momen terberat dalam kariernya terjadi di Euro 2024. Saat Swiss berhadapan dengan Inggris di perempat final, laga harus ditentukan lewat adu penalti. Akanji yang biasanya sangat tenang, justru gagal mengeksekusi penalti. Swiss pun harus tersingkir dari turnamen tersebut. Kritik tajam sempat menghujamnya, namun Akanji menunjukkan kelasnya. Dia tidak bersembunyi atau menyalahkan keadaan. Sebaliknya, dia menggunakan kegagalan itu sebagai bahan bakar untuk tampil lebih gila di musim berikutnya bersama Inter Milan. Mentalitas seperti inilah yang membedakan pemain bagus dengan pemain hebat. Dia tahu cara bangkit dari titik terendah.
"Kegagalan penalti itu menyakitkan, tapi itu bagian dari permainan. Anda tidak bisa memenangkan segalanya. Yang penting adalah bagaimana Anda meresponsnya keesokan harinya," tegasnya setelah turnamen berakhir.

Masa Depan di Giuseppe Meazza

Status pinjaman Akanji di Inter Milan menyertakan opsi pembelian permanen. Melihat performanya yang konsisten, hampir pasti Nerazzurri akan menebusnya dari City. Publik San Siro sudah jatuh cinta dengan gaya mainnya yang elegan namun lugas. Dia adalah sosok pengganti yang sempurna bagi bek-bek senior Inter yang mulai dimakan usia. Adaptasinya di Italia tergolong sangat cepat. Dia sudah fasih memahami instruksi taktis dalam bahasa Italia dan menjalin kemitraan yang solid dengan bek-bek lain seperti Alessandro Bastoni. Dua gol yang ia cetak di Serie A musim ini juga menunjukkan bahwa dia adalah ancaman nyata dalam situasi bola mati. Inter Milan sepertinya telah menemukan kepingan puzzle yang hilang untuk mempertahankan gelar Scudetto mereka.

Kesimpulan: Bek Modern dengan Paket Lengkap

Manuel Akanji adalah definisi bek modern yang sesungguhnya. Dia punya fisik yang kuat, kecepatan, kecerdasan taktik, dan kemampuan teknis yang mumpuni. Lebih dari itu, kepribadiannya yang rendah hati dan religius menjadikannya sosok panutan di ruang ganti. Dari lapangan hijau di Swiss hingga panggung megah Liga Champions dan Serie A, Akanji terus membuktikan bahwa kerja keras dan otak encer adalah kombinasi maut untuk meraih kesuksesan. Apakah dia akan menjadi legenda di Inter Milan atau kembali ke Manchester City untuk merebut posisinya? Hanya waktu yang bisa menjawab. Namun satu yang pasti, di mana pun dia bermain, Akanji akan selalu menjadi "hadiah" berharga bagi pelatih mana pun yang beruntung memilikinya. Pantau terus berita terbaru tentang Manuel Akanji dan perkembangan bursa transfer pemain dunia hanya di score.co.id.