Legenda Persebaya yang Masih Hidup: Kiprah Ikonik Trio Aji, Bejo, dan Jacksen

score.co.id - Legenda Persebaya yang Masih Hidup kini menyisakan dua nama besar dari trio ikonik yang pernah menggetarkan sepak bola nasional. Hingga Selasa, 5 Mei 2026, Aji Santoso dan Jacksen F. Tiago terus berkarya, sementara kenangan akan mendiang Bejo Sugiantoro abadi di hati Bonekmania setelah kepergiannya yang mendadak tahun lalu. Mereka adalah arsitek kejayaan. Tiga pilar tak tergantikan yang membawa Persebaya Surabaya ke puncak supremasi Liga Indonesia 1996/1997. Kisah mereka bukan sekadar catatan statistik, melainkan sebuah epik tentang loyalitas, determinasi, dan kecintaan pada lambang buaya di dada.
Momen emas saat Jacksen F. Tiago, Aji Santoso, dan Bejo Sugiantoro membawa Persebaya juara Liga Indonesia 1996/1997.

Babak Baru Dua Maestro, Satu Kenangan Abadi

Waktu mengubah segalanya. Trio yang dulu bahu-membahu di atas lapangan hijau kini menempuh takdir yang berbeda. Dua melanjutkan pengabdiannya dari sisi lapangan yang lain, sementara satu telah berpulang ke pangkuan Ilahi, meninggalkan warisan tak ternilai.

Jacksen F. Tiago: Dari Mesin Gol Menjadi Pencetak Talenta

Siapa yang bisa melupakan predator asal Brasil ini? Jacksen Ferreira Tiago, pemain terbaik Liga Indonesia 1996/1997, adalah otak dan otot serangan Green Force. Tak berhenti sebagai pemain, ia kembali sebagai juru taktik dan secara heroik mengantar Persebaya promosi pada 2003, lalu menjuarai Divisi Utama 2004. Sebuah pencapaian fenomenal. Kini, di usianya yang matang, Jacksen mendedikasikan ilmunya untuk pembinaan. Sejak 2024, ia menjabat sebagai Direktur Akademi Borneo FC, fokus mencetak generasi baru. Visinya tajam, terutama soal potensi sepak bola putri.
"Seperti yang kita lihat pekan lalu di Samarinda, antusiasme dan potensi pemain putri di Kalimantan sangat besar. Ini harus terus dijaga dengan menyediakan lebih banyak ruang latihan dan kompetisi yang konsisten."
Kutipannya menunjukkan betapa cintanya pada pengembangan sepak bola Indonesia tak pernah lekang oleh waktu. Ia fasih berbahasa Indonesia dan Jawa, bukti totalitasnya.

Aji Santoso: DNA Juara yang Terus Mengalir

Di sisi kiri pertahanan, Aji Santoso adalah tembok sekaligus sumber serangan balik mematikan. Bek legendaris dengan 46 caps untuk Timnas Indonesia ini juga merupakan bagian dari skuad peraih medali emas SEA Games 1991. Kiprah ikonik Persebaya tak bisa dilepaskan dari sosoknya periode 1995–1999.
Aji Santoso, sang mantan kapten, kini menjadi juru taktik yang disegani di kancah sepak bola nasional.
Setelah gantung sepatu, karier kepelatihannya melesat. Ia sempat menangani Persebaya pada 2019–2023, mempersembahkan gelar runner-up Liga 1 dan juara Piala Gubernur Jatim. Per Mei 2026, Aji tercatat sebagai nahkoda utama PSPS Pekanbaru, melanjutkan sentuhan magisnya di Riau.

Bejo Sugiantoro: Sang Bapak yang Telah Pergi

Kisah ini tak akan lengkap tanpa sang palang pintu asli Surabaya. Bejo Sugiantoro (1977–2025) adalah personifikasi loyalitas. Total lebih dari 200 penampilan liga ia catatkan untuk Bajul Ijo. Ia ada di sana saat juara 1997 dan kembali mengangkat trofi pada 2004. Namun, takdir berkata lain. Pada 25 Februari 2025, kabar duka menyelimuti Kota Pahlawan. Bejo Sugiantoro meninggal dunia di usia 47 tahun akibat serangan jantung saat bermain futsal. Sebuah kehilangan besar. Surabaya menangis.
Spanduk penghormatan dari Bonek untuk sang legenda, Bejo Sugiantoro, yang berpulang pada Februari 2025.
Dengan berpulangnya Bejo, trio legendaris ini menyisakan Aji dan Jacksen. Mereka adalah saksi hidup betapa magisnya era keemasan Persebaya di akhir milenium lalu. Kiprah para legenda Persebaya yang masih hidup ini akan terus menjadi inspirasi. Ikuti terus perjalanan Aji Santoso dan Jacksen F. Tiago dalam membangun masa depan sepak bola Indonesia hanya di score.co.id.