Lazio Juara Liga Italia Terbanyak
Biancocelesti: Simbol Ketangguhan di Tengah Lautan Raksasa Italia score.co.id - SS Lazio bukan sekadar nama di peta sepak bola Italia. Klub ini adalah cerita tentang tekad, identitas, dan perjuangan melawan segala rintangan. Meski hanya mengoleksi dua gelar Serie A (1973-74 dan 1999-2000), mereka menegaskan bahwa sejarah tak selalu ditulis oleh yang terbanyak menang, melainkan oleh yang paling gigih bertahan. Dari tujuh trofi Coppa Italia hingga kejayaan di Eropa, Lazio membuktikan diri sebagai klub yang pantang surut, bahkan di tengah dominasi Juventus, AC Milan, dan Inter. Akarnya di Roma: Kisah Kelahiran dan Perlawanan terhadap Merger Berdiri pada 9 Januari 1900 di distrik Prati, Roma, Lazio awalnya adalah klub multiolahraga sebelum fokus ke sepak bola. Keputusan menolak penggabungan dengan AS Roma tahun 1927—yang dipaksakan rezim Fasis—menjadi fondasi identitas mereka. Penolakan itu melahirkan Derby della Capitale, rivalitas yang tak hanya tentang bola, tetapi juga kelas sosial, politik, dan kebanggaan lokal.
1990-an: Dekade Emas yang Mengubah Takdir Lazio
Era ini menjadi saksi transformasi dramatis Lazio dari klub kelas menengah menjadi raksasa Eropa. Di bawah kendali Sergio Cragnotti, miliarder yang tak ragu berinvestasi, Biancocelesti mendatangkan deretan bintang seperti Pavel Nedvěd, Juan Sebastián Verón, dan Alessandro Nesta. Sven-Göran Eriksson: Arsitek di Balik Treble Domestik Kedatangan pelatih asal Swedia itu tahun 1997 mengubah segalanya. Dengan taktik cerdas dan manajemen pemain brilian, Eriksson membawa Lazio meraih treble domestik di musim 1999-2000: Serie A, Coppa Italia, dan Supercoppa Italiana. Tak hanya itu, dua trofi Eropa—UEFA Cup Winners’ Cup dan UEFA Super Cup—ikut memperkaya museum klub. Crespo dan Rekor Transfer yang Menggegerkan Tahun 2000, Lazio menggebrak pasar dengan memboyong Hernán Crespo dari Parma senilai £35 juta—angka tertinggi sepanjang sejarah saat itu. Meski akhirnya dijual ke Inter Milan dua tahun kemudian akibat krisis keuangan, transfer ini menegaskan ambisi klub untuk bersaing di level tertinggi.Badai Keuangan dan Seni Bertahan Hidup
Kebangkrutan perusahaan milik Cragnotti, Cirio, di awal 2000-an mengguncang fondasi klub. Lazio terpaksa melepas aset berharga seperti Crespo, Nedvěd, dan Nesta. Namun, di tengah keterpurukan, mereka menemukan cara untuk tetap relevan. Coppa Italia: Oasis di Tengah Gurun Kekeringan Gelar Sejak 2004, Lazio menjadikan kompetisi piala sebagai penyelamat reputasi. Gelar Coppa Italia di tahun 2009, 2013, 2019, dan 2023—termasuk kemenangan dramatis atas AS Roma di final 2023—membuktikan bahwa mereka tetap punya taring, bahkan tanpa dana melimpah. Calciopoli: Ujian Integritas dan Kebangkitan Kembali Terkait skandal pengaturan skor tahun 2006, Lazio dihukum pengurangan 11 poin dan denda besar. Namun, dengan kepemimpinan Delio Rossi, mereka bertahan di Serie A, menunjukkan karakter yang tak mudah patah.Lazio 2024-25: Bangkit dengan Gaya Sarri yang Memikat
Baca Juga: Alvaro Morata Lepas Liga Champions Cuma Demi Main di Liga 2 Spanyol: Keputusan Paling Plot Twist
Musim ini, Lazio tampil menggigit di Serie A. Dengan 50 poin dari 27 laga, mereka bersaing ketat di papan atas. Maurizio Sarri, pelatih berpaham Sarriball, sukses menanamkan filosofi penguasaan bola dan tekanan tinggi, meski sempat diragukan di awal kedatangannya.
Castellano dan Zaccagni: Duet Maut Penghancur Pertahanan
Valentin Castellano (16 gol) dan Mattia Zaccagni (12 gol) menjadi ujung tombak mematikan. Kemenangan 2-1 atas AC Milan dan kemenangan 3-0 atas Napoli menjadi bukti bahwa Lazio masih bisa menaklukkan raksasa.
Europa League: Pintu Menuju Kebesaran Kembali
Di kompetisi Eropa, Lazio melaju ke babak 16 besar setelah mengalahkan Feyenoord dan Olympique Marseille. Performa ini memberi harapan untuk mengulang kejayaan 1999, saat mereka terakhir kali menjuarai kompetisi benua.