Krisis Gol AC Milan: Catatan Terburuk 10 Tahun Mengancam Mimpi Liga Champions

SCORE.CO.ID - Sepak bola bukan hanya soal menang atau kalah di kadang, masalah terbesar justru datang saat tim lupa cara mencetak gol. Krisis gol AC Milan semakin memburuk di musim ini.Β  Di saat kompetisi memasuki fase penentuan, Rossoneri justru tersendat di lini depan, seolah kehilangan naluri paling dasar dalam permainan untuk membobol gawang lawan.

Catatan Krisis Gol AC Milan MemburukΒ 

Musim Serie A 2025/2026 menjadi periode yang sulit bagi Milan, terutama dalam hal produktivitas gol. Dari 35 pertandingan yang sudah dilalui, mereka baru mencetak 48 gol, angka yang sangat rendah untuk tim sekelas mereka. Jika situasi krisis gol AC Milan tidak segera berubah, mereka berpotensi mencatatkan rekor sebagai tim dengan jumlah gol terendah dalam satu dekade terakhir. Sebuah statistik yang jelas jauh dari ekspektasi publik San Siro. Performa tim dalam beberapa laga terakhir juga tidak membantu. Dari lima pertandingan terakhir, Milan hanya mampu meraih satu kemenangan. Kekalahan 0-2 dari Sassuolo menjadi gambaran nyata betapa rapuhnya daya serang mereka saat ini. Sorotan pun tertuju pada lini depan yang gagal tampil konsisten, terutama di paruh kedua musim. Serangan yang dulu tajam kini terasa mudah ditebak dan kurang efektif dalam penyelesaian akhir.

Para Penyerang Mandul di Momen Krusial

Christian Pulisic 4 Bulan Tak Mencetak Gol
Christian Pulisic 4 Bulan Tak Mencetak Gol
Masalah utama Milan terletak pada para pemain depan yang mengalami paceklik gol. Christian Pulisic, misalnya, sudah lebih dari empat bulan tidak mencetak gol sejak terakhir kali melakukannya pada akhir Desember 2025. Hal serupa juga dialami Niclas Fullkrug yang belum kembali menemukan sentuhan terbaiknya sejak Januari. Sementara itu, nama-nama seperti Christopher Nkunku dan Rafael Leao juga belum mampu memberikan kontribusi maksimal secara konsisten. Hal yang lebih mengkhawatirkan, Santiago Gimenez bahkan belum mencatatkan satu gol pun di Serie A musim ini. Kondisi ini membuat lini serang Milan terlihat tumpul dan minim variasi. Dampaknya kini mulai terasa di klasemen. Milan memang masih berada di zona Liga Champions, tetapi posisinya belum aman. Keunggulan poin atas para pesaing semakin menipis, sementara tim-tim seperti Como dan Roma terus menekan. Dengan hanya beberapa laga tersisa, tekanan kini berada di pundak Milan. Jika tidak segera menemukan solusi di lini depan, bukan tidak mungkin mereka harus merelakan tempat di empat besar. Ini bukan hanya soal taktik, tetapi juga mental dan ketajaman para pemain. Sebab di level tertinggi, satu hal yang tak bisa ditawar adalah kemampuan mencetak gol.