Kisah Haru Melihat Piala Dunia 2026 dari Gaza: Sepak Bola Sebagai Pelipur Lara

score.co.id - Kisah Haru Melihat Piala Dunia 2026 dari Gaza menjadi potret nyata bagaimana gairah olahraga mampu menembus batas-batas penderitaan di wilayah yang terkepung krisis. Di tengah pemadaman listrik yang meluas, ratusan pasang mata tetap tertuju pada layar proyektor darurat saat pembukaan turnamen berlangsung pada 12 Juni 2026.

Kisah Haru Melihat Piala Dunia 2026 dari Gaza di Tengah Pemadaman

Antusiasme warga Palestina untuk menyaksikan pesta bola dunia tidak surut meski kondisi keamanan belum stabil. Sebagaimana dilaporkan oleh Kompas.com, banyak penggemar berkumpul di area pengungsian yang masih memiliki akses terbatas ke generator listrik. Suasana haru menyeruak ketika lagu kebangsaan negara-negara peserta terdengar di antara reruntuhan bangunan yang hancur.

Anak-Anak Kibarkan Bendera Mesir, Arab Saudi, Iran di Tengah Krisis

Anak-anak di wilayah tersebut tampak memegang bendera kecil negara peserta seperti Mesir, Arab Saudi, Iran, dan Yordania dengan penuh harapan. Bagi mereka, sepak bola bukan sekadar kompetisi, melainkan jendela untuk melihat dunia luar yang lebih damai. Abdullah Masoud, salah satu warga, menyebutkan bahwa ketekunan ini adalah bukti bahwa rakyat Gaza masih mencintai kehidupan di tengah tantangan yang nyaris mustahil.

Stadion Gaza Rata dengan Tanah, Dari Al-Durrah ke Kamp Pengungsian Terpal

Kenyataan pahit terlihat jelas pada infrastruktur olahraga yang kini telah rata dengan tanah akibat hantaman rudal. Stadion-stadion nasional hingga lapangan komunitas tidak lagi memiliki tribun yang megah untuk menampung sorak sorai pendukung. Fasilitas kebanggaan seperti Stadion Al-Durrah kini telah bersalin rupa menjadi kamp pengungsian vertikal yang sesak oleh ribuan jiwa di balik sekat-sekat terpal.

Mahmoud Sulmi: Dari Striker Liga Domestik ke Antre Air di Tenda Pengungsian

Kisah pilu juga datang dari Mahmoud Sulmi, seorang pemain sepak bola profesional yang dulunya menjadi andalan lini serang di liga domestik Gaza. Karier gemilangnya terhenti paksa ketika stadion tempatnya berlatih hancur berkeping-keping. Kini, rutinitas harian Sulmi berubah drastis dari mengejar bola di lapangan hijau menjadi mengantre berjam-jam demi mendapatkan satu jeriken air bersih bagi keluarganya.

"Sulit menggambarkan penderitaan ini dengan kata-kata. Kami yang dulunya berlari mengejar prestasi, sekarang harus menghabiskan energi hanya untuk memastikan keluarga kami bisa makan esok hari. Kami kehilangan segalanya, terutama mata pencaharian," ujar Mahmoud Sulmi, Pemain Sepak Bola Gaza.

Lapangan di Tengah Reruntuhan: Hiburan Kecil untuk Kurangi Stres dan Trauma

Sebuah lapangan sepak bola darurat baru saja dibuka di tengah puing-puing Kota Gaza pada Sabtu, 14 Februari 2026. Alun-alun debu ini menjadi ruang rekreasi vital bagi ratusan ribu warga untuk sejenak melupakan trauma genosida. Penonton seringkali duduk di atas sisa beton bangunan yang hancur, menjadikan gedung rusak di sekelilingnya sebagai saksi bisu upaya menjaga kewarasan kolektif melalui olahraga.

Data PFA: 1.007 Atlet dan Ofisial Olahraga Gaza Gugur, 45 Atlet Wanita

Komunitas olahraga Palestina harus membayar harga yang sangat mahal dalam konflik ini. Data terbaru dari Asosiasi Sepak Bola Palestina (PFA) mencatat sebanyak 1.007 atlet, pelatih, dan ofisial olahraga telah gugur. Dari total korban tersebut, 45 di antaranya adalah atlet wanita yang kehilangan nyawa sebelum sempat menuntaskan mimpi-mimpi besar mereka di lapangan internasional.

Ikuti terus perkembangan informasi olahraga global dan kisah-kisah inspiratif lainnya dari berbagai penjuru dunia dengan mengunjungi laman resmi score.co.id sekarang.