Juara Europa League Musim Lalu
score.co.id - Tottenham Hotspur baru saja memastikan langkah mereka di babak 16 besar Liga Champions (UCL) musim 2025/2026 setelah hasil undian mempertemukan mereka dengan raksasa Spanyol, Atletico Madrid. Pertemuan ini bukan sekadar laga biasa. Ini adalah buah manis dari keberhasilan fenomenal mereka merajai Europa League musim lalu. Publik London Utara masih belum bisa melupakan malam ajaib di San MamΓ©s, Bilbao, saat gol tunggal Brennan Johnson membungkam Manchester United di partai final. Laga leg pertama melawan pasukan Diego Simeone akan digelar di Estadio Metropolitano pada 10 atau 11 Maret mendatang. Sementara itu, Tottenham Hotspur Stadium bakal menjadi saksi penentuan di leg kedua pada 17 atau 18 Maret 2026. Menariknya, ini adalah pertemuan resmi pertama kedua tim sejak final Piala Winners 1963 silam. Banyak pengamat menilai Spurs berada di sisi bracket yang lebih "ramah" ketimbang harus terjebak di jalur neraka yang mempertemukan Real Madrid dengan Manchester City. Namun, mari kita tarik napas sejenak dan menoleh ke belakang. Keberadaan Spurs di babak gugur kasta tertinggi Eropa ini tak lepas dari status mereka sebagai juara bertahan Europa League. Kemenangan 1-0 atas Manchester United pada 21 Mei 2025 adalah titik balik sejarah. Itu bukan cuma soal trofi, tapi soal harga diri klub yang sering jadi bahan olok-olok karena lemari pialanya yang berdebu selama hampir dua dekade.
Malam Keramat di San MamΓ©s: Saat Brennan Johnson Menjadi Pahlawan
Stadion San MamΓ©s yang megah berubah menjadi lautan putih saat peluit akhir berbunyi. Pertandingan final musim lalu itu benar-benar menguras emosi. Manchester United datang dengan ambisi besar, namun Tottenham asuhan Ange Postecoglou tampil lebih klinis. Gol penentu lahir di menit ke-42. Brennan Johnson mencetak gol dengan cara yang mungkin tidak estetis, tapi sangat krusial. Sebuah kemelut di depan gawang yang berawal dari umpan silang melengkung nan tajam milik Son Heung-min. Johnson hanya perlu menyodok bola dari jarak dekat, sebuah gol "bundled" yang membuat separuh stadion meledak dalam kegembiraan. Setelah gol itu, United membombardir pertahanan Spurs. Namun, di sanalah mentalitas baru Tottenham terlihat. Jika di tahun-tahun sebelumnya mereka sering "Spursy" atau kolaps di menit akhir, malam itu mereka berdiri kokoh layaknya tembok karang. Micky van de Ven melakukan sapuan bola tepat di garis gawang yang membuat fans United sudah nyaris bersorak. Tak ketinggalan, Guglielmo Vicario melakukan serangkaian penyelamatan akrobatik yang memastikan gawangnya tetap perawan hingga wasit meniup peluit panjang. Skor 1-0 bertahan. Kutukan 17 tahun resmi berakhir malam itu juga."Kami tahu sejarah klub ini. Kami tahu beban yang kami bawa. Tapi malam ini, kami membuktikan bahwa Tottenham bukan lagi tim yang sekadar meramaikan kompetisi. Kami adalah pemenang," ujar Ange Postecoglou sesaat setelah mengangkat trofi di podium Bilbao.
Cristian Romero: Sang Gladiator di Jantung Pertahanan
Jika Brennan Johnson adalah pencetak golnya, maka Cristian Romero adalah nyawa dari kemenangan tersebut. Bek asal Argentina itu dinobatkan sebagai Man of the Match. Statistiknya malam itu gila. Dia memenangkan hampir semua duel udara, melakukan tekel bersih di area penalti, dan yang paling penting, dia berhasil mematikan pergerakan striker United sepanjang 90 menit. Romero bermain dengan agresi yang terkontrol. Dia tahu kapan harus maju memotong bola dan kapan harus memberikan komando pada rekan-rekannya. Kehadirannya memberikan rasa aman bagi seluruh tim. Tanpa performa defensif kelas dunia dari Romero, mungkin ceritanya akan berbeda. Kemenangan ini juga mengukuhkan statusnya sebagai salah satu bek tengah terbaik di dunia saat ini. Performa solid ini menjadi modal berharga bagi Spurs saat kini mereka harus menghadapi Atletico Madrid. Gaya main Atletico yang pragmatis dan keras akan menjadi ujian fisik bagi Romero dan kawan-kawan. Publik menanti apakah "The Beast" dari Argentina ini mampu kembali menjinakkan penyerang-penyerang top di kompetisi elite Eropa.Ironi Klasemen Premier League dan Keajaiban Eropa
Baca Juga: Kandidat Favorit Ballon d'Or 2026 Versi Michel Platini Bikin Gempar: Bukan Diisi Nama-Nama Biasa
Ada fakta unik sekaligus menggelitik di balik kemenangan Europa League musim lalu. Tottenham berhasil juara di Eropa saat mereka justru sedang terseok-seok di kompetisi domestik. Bayangkan saja, saat final itu berlangsung, Spurs sedang berjuang di papan bawah Premier League, bahkan sempat mendekati zona degradasi. Ini adalah sebuah anomali dalam sejarah sepak bola modern.
Spurs tercatat sebagai tim dengan posisi klasemen liga domestik terendah yang pernah memenangkan Europa League dan lolos ke Champions League. Hal ini menunjukkan betapa Ange Postecoglou melakukan perjudian besar. Dia seolah melepaskan fokus di liga demi mengejar kejayaan di Benua Biru. Strategi ini berisiko tinggi, namun hasilnya sangat manis.
Kritik tajam sempat menghujam Ange sepanjang musim. Banyak yang meragukan sistem "Angeball" yang dianggap terlalu terbuka dan berisiko. Namun, trofi Europa League membungkam semua keraguan itu. Gelar tersebut menjadi bukti bahwa manajemen klub telah melakukan langkah tepat dengan mempertahankan pelatih asal Australia tersebut di tengah badai hasil buruk di Premier League.
Suntikan Dana 130 Juta Dollar dan Kebangkitan Ekonomi Klub
Kemenangan atas Manchester United tidak hanya memberikan trofi fisik, tapi juga "durian runtuh" secara finansial. Total pendapatan yang masuk ke kantong Daniel Levy diperkirakan mencapai $130 juta atau sekitar Β£100 juta. Angka ini berasal dari hadiah juara, pembagian hak siar, hingga tiket kualifikasi otomatis ke fase grup Champions League musim ini. Uang sebesar itu sangat berarti bagi struktur keuangan Tottenham. Mereka bisa lebih leluasa di bursa transfer untuk memperkuat kedalaman skuad. Kenaikan revenue ini juga berdampak pada nilai brand klub secara global. Kini, Tottenham kembali dipandang sebagai magnet bagi pemain-pemain bintang yang ingin mencicipi atmosfer kompetisi tertinggi di Eropa. Tanpa kemenangan di Bilbao, Spurs mungkin harus puas bermain di kompetisi kasta ketiga atau bahkan absen sama sekali dari kancah Eropa musim ini. Kemenangan tersebut benar-benar menjadi penyelamat muka sekaligus penyelamat neraca keuangan klub yang sangat ambisius ini.Menghapus Bayang-Bayang 1984 dan 2008
Baca Juga: UEFA Menjatuhkan Skorsing Buat Guendouzi dan Greenwood: Ulah Buruk Usai Laga Berbuntut Panjang
Bagi fans loyal Spurs, kemenangan musim lalu adalah momen emosional yang luar biasa. Sejak terakhir kali mengangkat League Cup pada 2008, Tottenham selalu gagal di rintangan terakhir. Mereka sering masuk final, tapi selalu pulang dengan kepala tertunduk. Kutukan itu akhirnya patah.
Lebih jauh lagi, ini adalah trofi Eropa pertama mereka sejak UEFA Cup (sekarang Europa League) tahun 1984. Jarak 41 tahun adalah waktu yang sangat lama bagi klub sebesar Tottenham. Generasi baru fans Spurs akhirnya bisa merasakan bagaimana rasanya melihat kapten mereka mengangkat piala di level internasional.
Final all-English ketiga dalam sejarah Europa League ini juga membuktikan dominasi klub Inggris di kompetisi tersebut. Namun bagi Spurs, ini lebih dari sekadar statistik. Ini adalah pernyataan bahwa mereka telah keluar dari bayang-bayang tim-tim besar lainnya di Inggris. Mereka tidak lagi sekadar "The Big Six" di atas kertas, tapi juga "The Big Six" dalam hal prestasi nyata.