score.co.id - Era semenjana sudah lewat. Bournemouth bukan lagi tim "numpang lewat" yang sekadar senang bisa bertahan di Premier League. Di bawah kepemilikan Bill Foley, klub pesisir selatan Inggris ini bertransformasi jadi mesin uang yang ambisius. Hingga 28 Februari 2026, total beban gaji The Cherries menembus angka fantastis £62.088.000 per tahun atau setara Rp 1,404 triliun. Angka yang bikin geleng-geleng kepala untuk ukuran tim yang secara historis akrab dengan kasta bawah.
Uang bicara. Prestasi menyusul. Itu hukum rimba di sepak bola Inggris. Dengan pengeluaran mingguan mencapai £1.194.000 (sekitar Rp 27 miliar), Bournemouth kini punya standar baru dalam menggaji pemain. Mereka tak segan memberikan kontrak mewah demi mengamankan talenta elit agar tidak dicomot raksasa London atau Manchester. Siapa yang duduk di singgasana tertinggi? Tak lain adalah bomber asal Brasil, Evanilson.
Evanilson: Investasi Rp 1,9 Miliar per Minggu yang Wajib Dibayar Gol
Mari kita bicara jujur. Memberikan £85.000 per minggu kepada satu pemain adalah perjudian besar bagi Bournemouth. Namun, bagi Evanilson, angka itu dianggap sepadan. Penyerang berusia 26 tahun ini mengantongi Rp 1,92 miliar setiap tujuh hari. Dalam setahun, rekeningnya membengkak Rp 99,9 miliar hanya dari gaji pokok. Belum termasuk bonus performa yang diprediksi bisa mendongkrak total pendapatannya ke angka £5,5 juta per tahun.
Kenapa dia dibayar semahal itu? Sederhana. Mencari striker yang konsisten di Premier League itu seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Sejak didatangkan dari Porto pada 2024, Evanilson menjadi poros serangan. Kontraknya yang masih tersisa hingga 2029 menunjukkan bahwa manajemen The Cherries menaruh seluruh harapan masa depan klub di pundaknya. Dia bukan sekadar pemain; dia adalah aset finansial terbesar di Vitality Stadium saat ini.
Tapi ingat, gaji tinggi datang dengan ekspektasi setinggi langit. Fans tidak akan peduli berapa nol di belakang angka gajinya jika dia gagal mencetak gol di laga-laga krusial. Di Bournemouth, Evanilson adalah "Raja Gaji", dan status itu adalah beban yang harus dia buktikan setiap akhir pekan di lapangan hijau.
Justin Kluivert dan Dinasti Mahal di Pesisir Selatan
Tepat di bawah Evanilson, ada nama yang sudah tidak asing di telinga pencinta bola dunia: Justin Kluivert. Dengan gaji £80.000 per minggu (Rp 1,8 miliar), putra legenda Patrick Kluivert ini membuktikan bahwa nama besar saja tidak cukup, performa juga harus bicara. Justin bukan lagi pemain muda berbakat yang labil. Di usia 26 tahun, dia mencapai kematangan karir di Bournemouth.
Gaji Justin yang mencapai £4,16 juta per tahun mencerminkan betapa Bournemouth menghargai kreativitas di lini depan. Dia adalah otak serangan, pemain yang bisa mengubah arah pertandingan dalam sekejap. Menariknya, struktur gaji Bournemouth musim 2025/2026 ini menunjukkan pola yang jelas: pemain depan dan gelandang serang adalah prioritas utama brankas klub.
Lantas, bagaimana dengan lini belakang? Di sinilah kejutan terjadi. Bafodé Diakité, bek tengah berusia 25 tahun, langsung menyodok ke peringkat ketiga dengan gaji £70.000 per minggu. Ini sinyal kuat bahwa Bournemouth sadar, menyerang memang memenangkan pertandingan, tapi pertahanan yang kokohlah yang memberikan jaminan posisi di papan tengah atas Premier League.
Daftar Lengkap Gaji Pemain Bournemouth Musim 2025/2026
Berikut adalah rincian lengkap gaji para penggawa Bournemouth hasil update terbaru pasca-jendela transfer Januari 2026. Data ini mencakup gaji pokok (gross base) sebelum pajak dan belum termasuk bonus individual yang biasanya cair berdasarkan jumlah penampilan, gol, atau clean sheet.
Peringkat
Nama Pemain
Posisi
Gaji Mingguan (£)
Gaji Tahunan (£)
Kontrak Berakhir
1
Evanilson
CF
85.000
4.420.000
2029
2
Justin Kluivert
AM
80.000
4.160.000
2028
3
Bafodé Diakité
CB
70.000
3.640.000
2026
4
Ryan Christie
CM
70.000
3.640.000
2027
5
Marcus Tavernier
AM
65.000
3.380.000
2029
6
Djordje Petrovic
GK
60.000
3.120.000
2030
7
Tyler Adams
DM
60.000
3.120.000
2028
8
Amine Adli
LW
60.000
3.120.000
2030
9
Lewis Cook
CM
60.000
3.120.000
2028
10
Marcos Senesi
CB
50.000
2.600.000
2026
11
David Brooks
RW
50.000
2.600.000
2029
12
Rayan (Rocha)
CF
45.000
2.340.000
2031
13
Adam Smith
RB
40.000
2.080.000
2027
14
Alex Scott
CM
40.000
2.080.000
2028
15
Alex Tóth
CM
40.000
2.080.000
2031
16
Fraser Forster
GK
40.000
2.080.000
2026
17
Adrien Truffert
LB
35.000
1.820.000
2030
18
Luis Sinisterra
LW
35.000
1.820.000
2026
19
Ben Gannon-Doak
RW
30.000
1.560.000
2030
20
Veljko Milosavljevic
CB
25.000
1.300.000
2030
21
James Hill
CB
25.000
1.300.000
2029
22
Julio Soler
LB
20.000
1.040.000
2029
23
Eli Junior Kroupi
CF
20.000
1.040.000
2030
24
Álex Jiménez
RB
18.000
936.000
2026
25
Enes Ünal
CF
15.000
780.000
2028
26
Julián Araujo
RB
12.500
650.000
2029
27
Christos Mandas
GK
12.500
650.000
2026
28
Max Aarons
RB
10.000
520.000
2029
29
Will Dennis
GK
5.000
260.000
2028
30
Daniel Jebbison
CF
5.000
260.000
2028
31
Romain Faivre
AM
5.000
260.000
2028
32
Matai Akinmboni
CB
4.000
208.000
2026
33
Ben Winterburn
DM
2.000
104.000
2027
Sumber: Capology & Spotrac (Update Feb 2026). Kurs estimasi: £1 = Rp 22.600.
Analisis: Strategi Cerdas atau Pemborosan Terselubung?
Coba perhatikan distribusi gajinya. Bournemouth sangat cerdik dalam mengelola neraca. Meskipun mereka punya "Raja Gaji" seperti Evanilson, mereka masih memiliki banyak pemain dengan gaji di bawah £20.000 per minggu. Nama-nama seperti Julián Araujo (£12.500) atau Max Aarons (£10.000) adalah bukti bahwa klub ini masih punya sisi hemat.
Namun, ada satu hal yang menarik perhatian: gaji para pemain muda. Rayan (Rocha), penyerang Brasil berusia 19 tahun, langsung mendapatkan £45.000 per minggu dengan kontrak hingga 2031. Ini adalah perjudian jangka panjang. Bournemouth bertaruh bahwa Rayan akan menjadi "The Next Big Thing". Jika dia meledak, nilai transfernya akan berkali-kali lipat dari gajinya. Jika gagal? Maka Bournemouth terjebak dengan beban gaji Rp 1 miliar per minggu untuk pemain cadangan selama 5 tahun ke depan. Berani? Jelas.
Lalu ada Ryan Christie. Di usia 30 tahun, dia masih mengantongi £70.000 per minggu. Ini adalah bentuk apresiasi untuk loyalitas dan stabilitas. Di Premier League yang sangat cepat, pemain senior dengan pengalaman seperti Christie adalah "lem" yang menyatukan tim. Tanpa pemain seperti dia, skuad muda Bournemouth bisa kehilangan arah saat ditekan tim besar.
Kesenjangan Gaji: Potensi Bom Waktu di Ruang Ganti?
Mari kita bicara sisi gelap dari data ini. Ada jurang yang sangat lebar antara pemain top dan pemain pelapis. Bayangkan, Ben Winterburn hanya menerima £2.000 per minggu, sementara Evanilson menerima 42 kali lipatnya! Tentu, kontribusi di lapangan berbeda jauh, tapi dalam psikologi ruang ganti, kesenjangan yang terlalu mencolok seringkali memicu kecemburuan.
Apalagi jika pemain dengan gaji kecil seperti Daniel Jebbison atau Romain Faivre (keduanya £5.000/minggu) tiba-tiba tampil lebih gemilang daripada pemain dengan gaji £60.000. Itulah saat di mana agen pemain akan mulai mengetuk pintu kantor manajemen untuk meminta kenaikan gaji atau mengancam akan hengkang. Bournemouth harus sangat hati-hati mengelola ego para pemain ini.
Tak hanya itu, status beberapa pemain yang dipinjamkan juga menjadi catatan penting. Luis Sinisterra, Max Aarons, dan Romain Faivre adalah nama-nama yang gajinya mungkin tidak sepenuhnya ditanggung Bournemouth saat ini. Efisiensi ini krusial agar klub tidak terjerat aturan Profit and Sustainability Rules (PSR) yang sedang galak-galaknya diterapkan operator liga.
Pemain Paling "Underpaid": Siapa yang Layak Naik Gaji?
Jika saya adalah direktur teknik Bournemouth, saya akan segera memanggil Alex Scott ke ruangan. Di usia 22 tahun, dengan talenta sebesar itu, gaji £40.000 per minggu terasa sangat "murah" untuk standar Premier League 2026. Scott adalah komoditas panas. Jika Bournemouth tidak segera memperbarui kontraknya dengan angka yang lebih kompetitif, jangan kaget jika musim depan dia sudah berseragam putih-putih milik Tottenham atau biru milik Chelsea.
Begitu juga dengan Enes Ünal. Penyerang Turki ini hanya dibayar £15.000 per minggu. Untuk pemain dengan jam terbang internasional dan kemampuan sebagai super-sub, angka ini sangat ekonomis. Ünal adalah definisi dari value for money. Dia memberikan kontribusi maksimal dengan biaya minimal. Tapi pertanyaannya, sampai kapan dia betah dibayar seperenam dari gaji Evanilson?
Masa Depan Finansial: Menuju Papan Atas Permanen
Dengan total tagihan gaji £62 juta, Bournemouth saat ini berada di peringkat 17-19 dalam daftar wage bill tertinggi di Premier League. Artinya, secara finansial mereka masih "tim kecil". Namun, secara performa, mereka seringkali berada di 10 besar. Inilah yang disebut efisiensi tingkat tinggi.
Bill Foley tidak ingin Bournemouth hanya jadi persinggahan. Dia ingin membangun dinasti. Gaji-gaji besar yang diberikan kepada Evanilson, Kluivert, dan Diakité adalah fondasi. Musim depan, jangan kaget jika total gaji mereka melonjak ke angka £80 juta jika mereka berhasil menembus kompetisi Eropa. Uang memang bukan segalanya, tapi di Premier League, uang adalah bahan bakar utama untuk bermimpi.
Bournemouth kini bukan lagi klub kecil yang hanya berharap keajaiban. Mereka adalah klub yang dikelola secara profesional, dengan perhitungan gaji yang matang, dan ambisi yang tidak main-main. Evanilson mungkin adalah raja hari ini, tapi dengan kebijakan transfer yang agresif, raja-raja baru dengan gaji lebih fantastis pasti akan segera berdatangan ke Vitality Stadium.
Kesimpulan: Strategi Berisiko yang Terukur
Struktur gaji Bournemouth musim 2025/2026 mencerminkan klub yang sedang bertransformasi. Mereka berani membayar mahal untuk posisi kunci, namun tetap menjaga kaki tetap membumi untuk pemain pelapis. Evanilson memimpin dengan angka Rp 99,9 miliar per tahun, sebuah pernyataan tegas bahwa Bournemouth siap bersaing dengan tim mapan. Tantangan terbesarnya kini adalah memastikan setiap Pounds yang keluar dari brankas berubah menjadi poin di papan klasemen.
Pantau terus update terbaru mengenai gaji pemain, rumor transfer, dan analisis tajam sepak bola dunia hanya di score.co.id. Jangan sampai ketinggalan info panas dari balik layar klub favoritmu!