Fakta Sejarah: Terungkap Alasan Mengapa Persib Pernah Tolak Lawan Persija
Β· sukro score.co.id
score.co.id - Fakta sejarah mengapa Persib pernah tolak lawan Persija kembali mengemuka, menguak salah satu episode paling dramatis dalam rivalitas sepak bola Tanah Air. Insiden pada 4 September 2005 itu bukan sekadar soal teknis, melainkan teror mental yang mencekam, di mana Manajer Persib kala itu, Chandra Solehan, mengambil keputusan monumental yang dampaknya terasa hingga akhir musim.
Pertandingan yang seharusnya menjadi penutup babak reguler Liga Indonesia XII Wilayah Barat itu berubah menjadi panggung ketegangan. Stadion Lebak Bulus, yang sejatinya hanya berkapasitas 12.000 penonton, disesaki lebih dari 25.000 The Jakmania. Situasi menjadi tak terkendali ketika ribuan suporter tumpah ruah hingga ke tepi lapangan, tanpa ada pagar pembatas yang mampu menahan gelombang massa.
Kronologi Lautan Oranye di Lebak Bulus
Pemandangan lautan manusia di pinggir lapangan jelas menciptakan atmosfer intimidatif. Kondisi ini membuat skuad Maung Bandung, yang sudah bersiaga di Karawang sambil memantau situasi lewat siaran televisi, enggan berangkat menuju stadion. Ancaman keamanan bukan isapan jempol, sebab sehari sebelumnya, saat sesi latihan resmi, beberapa pemain dan ofisial Persib dilaporkan mengalami serangan dari oknum suporter.
Panitia pelaksana dan manajemen Persija sejatinya sudah berupaya keras. Kick-off yang semula dijadwalkan pukul 15.30 WIB diundur hingga pukul 18.00 WIB untuk memberi waktu sterilisasi lapangan. Bahkan, Ketua The Jakmania saat itu, Ferry Indrasjarif, turun tangan langsung untuk menenangkan massa. Namun, bagi kubu Persib, jaminan keamanan tersebut tidak cukup meyakinkan. Mereka bersikukuh menolak bertanding dalam kondisi yang mereka anggap membahayakan nyawa.
βKenapa tidak ada kesempatan untuk pertandingan ulang.β β Chandra Solehan, Manajer Persib Bandung (2005).
Kutipan tersebut mencerminkan kekecewaan mendalam kubu Pangeran Biru terhadap keputusan PSSI yang tidak memberikan opsi laga tunda di tempat netral, meski alasan keamanan sudah sangat jelas.
Wasit meniup peluit tanda pertandingan berakhir WO setelah Persib menolak turun ke lapangan.
Keputusan Persib untuk walk-out (WO) berbuntut panjang. Komisi Disiplin PSSI di bawah pimpinan Togar Manahan Nero tanpa ampun menjatuhkan palu godam. Persib dinyatakan kalah WO 0-3, mendapat pengurangan 3 poin di klasemen, serta dijatuhi denda sebesar Rp25 juta. Sanksi ini menjadi pukulan telak yang mengubur mimpi mereka.
Akibatnya, Persib Bandung harus puas finis di peringkat keenam klasemen Wilayah Barat dengan koleksi 35 poin. Mereka gagal melaju ke babak 8 besar, tertinggal empat poin dari Persekabpas Pasuruan yang mengamankan slot terakhir. Di sisi lain, Persija Jakarta justru diuntungkan. Tambahan tiga poin otomatis mengukuhkan mereka sebagai juara Wilayah Barat dengan 49 poin, melenggang mulus ke fase selanjutnya.
Insiden Lebak Bulus 2005 menjadi salah satu noda hitam sekaligus bumbu penyedap dalam sejarah rivalitas abadi ini. Sebuah laga yang tak pernah dimainkan, namun dampaknya begitu besar dan terus dikenang hingga kini.
Stadion Lebak Bulus yang penuh sesak menjadi saksi bisu batalnya laga Persija vs Persib.
Peristiwa ini membuktikan bahwa duel Persija kontra Persib lebih dari sekadar 90 menit di atas lapangan. Ada gengsi, harga diri, dan terkadang, drama yang melampaui batas sportivitas. Momen bersejarah ini menambah panas rivalitas kedua tim. Menurut Anda, apakah keputusan Maung Bandung saat itu tepat? Mari diskusikan insiden Persib pernah tolak lawan Persija ini di kolom komentar score.co.id!