Drama Tunggak Gaji Berakhir: Langkah Ekstrem I.League Ini Bikin Pemain Sepak Bola Indonesia Sujud Syukur

SCORE.CO.ID - I.League terus mendorong pembenahan tata kelola klub sepak bola Indonesia, terutama dari sisi finansial. Drama tunggak gaji berakhir menjadi target penting agar persoalan kewajiban klub kepada pemain tidak terus berulang. Upaya tersebut dilakukan melalui pengetatan proses club licensing. Regulasi ini diharapkan mampu mendorong klub memiliki landasan bisnis yang lebih kuat dan tidak terus bergantung pada suntikan dana pemilik. Direktur Komersial I.League, Sadikin Aksa, menyebut pembenahan tersebut merupakan proses panjang. Menurutnya, kondisi sepak bola Indonesia memang belum bisa langsung disamakan dengan kompetisi di Eropa.

Drama Tunggak Gaji Berakhir dengan Club Licensing yang Lebih Ketat

Persoalan finansial klub Indonesia ternyata tidak muncul begitu saja. Sadikin menyinggung sejumlah kejadian besar yang pernah membuat industri sepak bola nasional berada dalam situasi sulit. Salah satunya adalah sanksi FIFA pada 2015. Setelah itu, pandemi Covid-19 juga membuat kompetisi berhenti dalam waktu panjang. Menurut Sadikin, kompetisi bahkan tidak berjalan selama sekitar 500 hari atau kurang lebih 1,5 tahun. Kondisi tersebut memberikan dampak besar terhadap keuangan sejumlah klub. Beban dari masa lalu bahkan masih dirasakan hingga sekarang. Pemilik klub saat ini disebut harus ikut membereskan persoalan yang ditinggalkan dari periode sebelumnya. Karena itu, I.League ingin memastikan masalah serupa tidak kembali muncul. Klub harus memiliki kemampuan untuk memenuhi kewajibannya, terutama terkait pembayaran gaji pemain dan kebutuhan operasional lainnya. Pengetatan club licensing menjadi salah satu instrumen utama yang akan digunakan. Persyaratan tersebut tidak hanya dipandang sebagai formalitas, tetapi juga menjadi cara untuk mendorong klub lebih profesional.

Klub Indonesia Dituntut Mandiri dan Berkelanjutan

Direktur Komersial I.League, Sadikin Aksa
Direktur Komersial I.League, Sadikin Aksa
Menurut Sadikin, klub harus mulai membangun sumber pemasukan dan model bisnis yang lebih sehat. Ketergantungan terhadap dana pribadi pemilik tidak bisa menjadi solusi utama dalam jangka panjang. Kemandirian finansial dianggap penting agar industri sepak bola Indonesia bisa berkembang secara berkelanjutan. Dengan kondisi keuangan yang lebih sehat, klub juga memiliki ruang lebih besar untuk mengelola skuad dan memenuhi kewajiban tepat waktu. Kabar positifnya, sejumlah klub disebut sudah menunjukkan perkembangan dari sisi bisnis. Hal tersebut terlihat melalui laporan keuangan yang mulai memperlihatkan kondisi lebih baik. I.League pun ingin menjaga tren tersebut sambil terus memperbaiki sistem kompetisi. Jika aturan dijalankan secara konsisten, klub diharapkan semakin profesional dan sehat. Pada akhirnya, pembenahan ini bukan hanya soal regulasi. Tujuan besarnya adalah memastikan drama tunggak gaji berakhir dan klub Indonesia mampu bertahan dengan fondasi finansial yang kuat.