Jejak Awal dan Era Manajer Sambilan
Pada periode 1948 hingga 1991, Federasi Sepak Bola Korea (KFA) belum menerapkan sistem manajer tetap. Mereka mengandalkan adjunct managers atau pelatih paruh waktu. Nama-nama legendaris seperti Kim Yong-sik dan Park Jong-hwan sering kali dipanggil kembali untuk bertugas. Kim Yong-sik bahkan tercatat memimpin tim sebanyak lima kali penunjukan berbeda. Di bawah arahannya, Korea meraih kejayaan dengan menjuarai Piala Asia 1960. Namun, sistem ini sering dianggap kurang stabil untuk jangka panjang.
Transformasi Profesional dan Pelatih Korea Selatan dari Masa ke Masa
Perubahan besar terjadi pada tahun 1992. KFA memutuskan untuk hanya menggunakan pelatih penuh waktu. Kim Ho menjadi sosok pertama yang mengemban mandat ini secara profesional hingga Piala Dunia 1994. Langkah ini membuka pintu bagi inovasi taktik yang lebih mendalam. Bahkan, KFA mulai melirik talenta luar negeri dengan mendatangkan Anatoliy Byshovets. Fondasi profesionalisme ini menjadi kunci perkembangan fisik dan mental pemain Korea di kancah global.Sihir Guus Hiddink dan Standar 2002
Sejarah pelatih The Taeguk Warriors mencapai puncaknya saat Guus Hiddink datang pada awal 2001. Pria asal Belanda ini mengubah wajah sepak bola Korea selamanya. Melalui tangan dinginnya, Korea Selatan berhasil menembus semifinal Piala Dunia 2002. Peringkat keempat dunia adalah prestasi tertinggi yang pernah dicapai tim Asia mana pun. Hiddink bukan sekadar pelatih. Dia adalah fenomena nasional. Standar yang ia tetapkan menjadi tolok ukur bagi setiap pelatih timnas Korea Selatan Piala Dunia di masa-masa setelahnya.
Dinamika Suksesor: Dari Paulo Bento hingga Krisis Klinsmann
Pasca era Hiddink, kursi pelatih silih berganti diisi nama besar seperti Dick Advocaat dan Uli Stielike. Namun, stabilitas sejati baru dirasakan di bawah Paulo Bento. Pelatih asal Portugal ini memegang rekor masa jabatan terpanjang dalam sejarah, yakni 4 tahun 106 hari. Ia mencatatkan 35 kemenangan dari 57 laga dan membawa tim ke babak 16 besar Piala Dunia 2022. Sebaliknya, periode JΓΌrgen Klinsmann pada 2023 justru memicu krisis internal yang berujung pemecatan setelah kegagalan di Piala Asia.Kegagalan Hong Myung-bo dan Proyeksi 2026
Penunjukan Hong Myung-bo jilid II pada 8 Juli 2024 sempat memicu optimisme. Mantan kapten timnas ini diharapkan membawa stabilitas menuju Piala Dunia 2026. Korea memang perkasa di babak kualifikasi tanpa tersentuh kekalahan. Namun, panggung utama di Amerika Utara menjadi mimpi buruk. Korea tersingkir di fase grup setelah kalah beruntun dari Meksiko dan Afrika Selatan pada Juni 2026. Kritik pedas mengalir deras. Presiden Lee Jae-myung menyebut kegagalan ini sebagai bentuk ketidakmampuan organisasi yang fatal.
Baca Juga: Kandidat Favorit Ballon d'Or 2026 Versi Michel Platini Bikin Gempar: Bukan Diisi Nama-Nama Biasa