Carlo Ancelotti Muda: Kisah Sukses Sang Gelandang Bawa AS Roma Juara 1983
Β· sukro score.co.id
ROMA, score.co.id - Jauh sebelum namanya menggema sebagai juru taktik legendaris, figur Carlo Ancelotti muda adalah dinamo tak kenal lelah di jantung permainan AS Roma. Pada 8 Mei 1983, atau 43 tahun silam dari hari ini, ia menjadi salah satu pilar utama saat Giallorossi mengunci gelar Scudetto kedua dalam sejarah klub, sebuah penantian panjang selama 41 tahun yang penuh drama di bawah komando sang arsitek, Nils Liedholm.
Carlo Ancelotti muda menjadi motor serangan AS Roma sepanjang musim 1982-1983.
Didatangkan untuk Menjadi Tulang Punggung
Proyek ambisius Presiden Dino Viola dan pelatih Nils Liedholm mencapai puncaknya di musim 1982-83. Setelah nyaris juara pada 1981 dan finis ketiga pada 1982, kepingan terakhir seolah telah ditemukan. Ancelotti, yang direkrut dari Parma pada 1979 atas permintaan langsung Liedholm, berhasil dibajak dari incaran Inter dan Juventus. Sebuah perjudian yang terbayar lunas.
Ancelotti muda bukan sekadar gelandang biasa. Ia adalah jantung tim. Dalam formasi 4-3-3 cair ala Liedholmβyang disebut mirip gaya tiki-taka Barcelona puluhan tahun kemudianβia menjadi bagian trio gelandang maut bersama Herbert Prohaska dan sang maestro, Paulo Roberto Falcao. Ia tampil ngotot, memutus serangan lawan, dan mengalirkan bola dengan visi brilian. Luciano Tessari, pemandu bakat Roma yang merekrutnya, pernah berkata, "Anak ini cerdas. Dia ada di mana-mana dan selalu tiba lebih dulu."
Perjalanan Menuju Takhta Juara
Roma memulai kampanye dengan kemenangan 3-1 di Cagliari dan langsung tancap gas. Sejak pekan keenam, posisi puncak klasemen tak pernah mereka lepaskan. Namun, jalan menuju gelar tidaklah mulus. Beban itu terasa berat.
"Gelar bersama Roma ini adalah yang paling menyiksa, dan karena itu menjadi yang paling penting." - Nils Liedholm, Pelatih AS Roma 1982-83
Tensi memuncak pada 6 Maret 1983. Juventus datang ke Olimpico dan mencuri kemenangan 2-1 lewat gol dramatis Sergio Brio di menit ke-86. Jarak terpangkas menjadi tiga poin. Banyak yang cemas, tapi tidak dengan skuad ini. Mental juara mereka teruji. Seminggu berselang, mereka menjawab keraguan dengan membungkam Pisa 2-1, berkat magi dari Falcao dan sang kapten, Agostino Di Bartolomei.
Pelukan ikonik antara kapten Agostino Di Bartolomei dan Carlo Ancelotti.
Momen emosional lainnya terekam kamera saat Roma menang 2-0 atas Avellino pada 1 Mei. Setelah gol tercipta, Di Bartolomei dan Ancelotti berpelukan erat di tengah lapangan. Sebuah gestur yang menunjukkan betapa solidnya ruang ganti Giallorossi.
Hari Penentuan di Marassi
Tanggal 8 Mei 1983 di Stadio Luigi Ferraris, Genoa, menjadi saksi bisu. Roma hanya butuh satu poin. Ketegangan terasa hingga ke tulang. Harapan publik Roma berada di pundak Roberto Pruzzo, sang bomber andalan. Benar saja, Pruzzo membuka skor lewat sundulan melambung khasnya memanfaatkan umpan Di Bartolomei. Genoa sempat menyamakan kedudukan, namun skor 1-1 bertahan hingga peluit panjang. Roma adalah juara Italia!
Musim itu, Ancelotti mencatatkan 23 penampilan di Serie A dengan sumbangan 2 gol. Bagi Ancelotti, yang harus menelan pil pahit absen dari Piala Dunia 1982 akibat cedera lutut parah, gelar ini bukan sekadar trofi. Ini adalah validasi. Sebuah pembuktian kariernya yang gemilang di ibu kota, di mana ia juga memenangkan empat gelar Coppa Italia.
Sundulan Roberto Pruzzo yang mengunci gelar Serie A untuk Giallorossi.
Selama delapan musim (1979-1987), Ancelotti menjadi idola. Ia menulis dalam otobiografinya, "Roma adalah kota yang liar, ibu kota di hati saya." Warisannya bukan hanya piala, tapi ikatan abadi dengan Romanisti.
Kisah Carlo Ancelotti muda ini adalah pengingat bahwa DNA juara sudah tertanam dalam dirinya jauh sebelum ia dikenal sebagai pelatih bertangan dingin. Untuk analisis mendalam dan berita eksklusif lainnya, terus pantau score.co.id.