Sejarah ternyata gemar mengulang dirinya sendiri. Pada 6 Juli 2026, di bawah sorot lampu MetLife Stadium, skenario serupa terbentang di hadapan ribuan pasang mata. Brasil kembali diunggulkan sebagai kandidat juara. Namun, takdir berkata lain. Pertahanan disiplin yang digalang anak asuh Stale Solbakken membuat frustrasi lini serang Selecao yang dipimpin bintang-bintang muda mereka. Pertandingan berjalan buntu hingga memasuki fase kritis babak kedua.
Brace Haaland menit 79 dan 90
Erling Haaland membuktikan mengapa ia disebut sebagai predator paling mematikan saat ini. Menit ke-79, ia menyambar umpan silang Schjelderup dengan sundulan tajam yang mengulang memori gol Flo. Brasil berusaha membalas, namun justru Haaland kembali menghukum mereka pada menit ke-90 melalui tembakan keras dari luar kotak penalti. Meski Neymar sempat memperkecil ketertinggalan lewat penalti di masa injury time, skor 2-1 tetap bertahan. Keajaiban Marseille resmi berpindah ke New Jersey.
Piala Dunia 2026 Norwegia Brasil - Erling Haaland merayakan brace yang memastikan skor Norwegia Brasil 2-1 terulang kembali setelah hampir tiga dekade.
Persamaan statistik dan narasi
Kemiripan kedua laga ini sungguh mengerikan secara matematis. Keduanya terjadi dengan Brasil yang memimpin atau mendominasi penguasaan bola, diikuti dengan dua gol balasan Norwegia dalam sepuluh menit terakhir pertandingan. Bedanya, jika pada 1998 narasi utamanya adalah perjuangan lolos grup, tahun 2026 adalah tentang tiket perempat final pertama dalam sejarah modern Norwegia. Keduanya sama-sama meruntuhkan status Brasil sebagai tim yang tak tersentuh.
Peran Solbakken dan Rekdal di dua generasi
Ada benang merah kuat antara dua generasi ini. Stale Solbakken, yang hanya duduk di bangku cadangan pada 1998, kini berdiri gagah di area teknis sebagai pelatih kepala. Sementara itu, Kjetil Rekdal yang kini menjadi pengamat, bahkan telah meramalkan skor ini sebelum peluit dibunyikan. Rekdal memprediksi kemenangan 2-1 dengan ketepatan yang menakutkan. Visi Rekdal dan strategi Solbakken menyatu, membuktikan bahwa sejarah bukan sekadar angka, melainkan DNA yang diwariskan.
Hingga saat ini, Brasil masih belum bisa memecahkan kutukan Nordik. Dalam empat pertemuan resmi sepanjang sejarah, Norwegia mencatat dua kemenangan dan dua hasil imbang. Brasil tidak pernah menang. Statistik unik ini menempatkan Norwegia sebagai satu-satunya negara di dunia yang memiliki rekor pertemuan positif melawan pemilik lima gelar juara dunia tersebut. Rekor ini tetap terjaga dengan kemenangan emosional di Amerika Serikat.
Simak detail ulasan taktik dan statistik pemain selengkapnya hanya dengan mengunjungi score.co.id untuk informasi bola paling akurat.