
Menelusuri Jejak Sejarah: Berapa Kali Newcastle Degradasi?
Jika ada yang bertanya secara spesifik mengenai rekor buruk ini, jawabannya adalah enam kali. Enam luka mendalam ini semuanya tercipta jauh sebelum kucuran dana segar dari Timur Tengah mengalir ke kas klub pada Oktober 2021. Setiap kejatuhan membawa ceritanya sendiri, sebuah tragedi yang menguji kesetiaan puluhan ribu Geordies. Menariknya, sejarah menunjukkan bahwa Newcastle selalu menemukan jalan pulang. Setiap kali mereka terjerembab ke lembah kasta kedua, The Magpies perlahan tapi pasti merajut asa untuk kembali promosi. Daya juang inilah yang membuat mereka sempat mendapat julukan sebagai "yo-yo club" pada era tertentu, meski label tersebut terasa terlalu merendahkan untuk klub sebesar mereka. Mari kita bedah satu per satu momen kejatuhan tersebut. Pemahaman mendalam tentang masa lalu ini akan memberikan perspektif baru mengenai seberapa berharganya stabilitas yang dinikmati skuad asuhan Eddie Howe saat ini.Tragedi Perdana: Kejatuhan Mengejutkan di Musim 1933/34
Periode 1930-an menyimpan paradoks terbesar dalam sejarah awal klub. Pada tahun 1932, mereka baru saja dielu-elukan bagai pahlawan setelah sukses mengangkat trofi FA Cup. Publik Tyneside berpesta, meyakini bahwa era kejayaan baru sedang menanti di depan mata. Hanya berselang dua musim, petaka datang menghampiri. Badai cedera yang menimpa pilar-pilar utama menghancurkan fondasi permainan tim. Kondisi keuangan klub yang mulai goyah turut memperparah situasi, membuat manajemen tidak berkutik saat performa skuad terjun bebas ke dasar klasemen. Mereka mengakhiri musim 1933/34 di posisi ke-21 Divisi Pertama. Kejatuhan ini memicu periode pengasingan terpanjang klub di kasta bawah. The Magpies harus menunggu selama 14 tahun untuk bisa kembali menghirup udara segar divisi teratas. Durasi panjang ini turut dipengaruhi oleh berhentinya kompetisi akibat meletusnya Perang Dunia II. Selama masa kelam belasan tahun tersebut, klub bahkan nyaris dinyatakan bangkrut. Manajemen terpaksa mengobral aset berharga demi menyambung napas operasional. Barulah pada musim 1947/48, mereka berhasil keluar dari lubang jarum dengan status sebagai kampiun Divisi Kedua.Krisis Era 60-an dan 70-an: Hilangnya Identitas Permainan
Baca Juga: Kandidat Favorit Ballon d'Or 2026 Versi Michel Platini Bikin Gempar: Bukan Diisi Nama-Nama Biasa
Luka kedua tercipta pada musim 1960/61. Kala itu, kursi kepelatihan yang diduduki oleh Bill McGarry bagaikan kursi panas yang siap meledak kapan saja. Ketidakstabilan di ruang ganti tercermin jelas dari rentetan kekalahan beruntun yang diderita tim pada fase krusial akhir musim.
Newcastle kembali harus puas finis di urutan ke-21. Butuh waktu empat tahun bagi mereka untuk menata ulang puing-puing kehancuran tersebut, sebelum akhirnya merengkuh gelar juara Divisi Kedua pada 1964/65 dan kembali ke habitat aslinya.
Sejarah kelam kembali terulang pada musim 1977/78. Kali ini, penyebab utamanya adalah eksodus pemain bintang. Kepergian sosok ikonik seperti Malcolm Macdonald meninggalkan lubang menganga di lini serang yang tak mampu ditambal oleh manajemen. Konflik internal antar dewan direksi menciptakan atmosfer beracun yang merembet hingga ke atas lapangan hijau.
Kejatuhan ketiga ini memaksa fans menelan pil pahit selama enam tahun berturut-turut. Protes keras mulai sering terdengar di sudut-sudut St James' Park. Publik menuntut adanya ambisi nyata dari petinggi klub, sebuah tuntutan yang baru terjawab saat mereka sukses meraih posisi runner-up Divisi Kedua pada 1983/84.
Mimpi Buruk Akhir Dekade 80-an
Memasuki pengujung era 1980-an, tepatnya musim 1988/89, The Magpies kembali harus mencicipi pahitnya degradasi untuk keempat kalinya. Di bawah komando manajer Jim Smith, skuad tampil tak bernyawa sepanjang kompetisi bergulir. Statistik mencatat mereka hanya mampu mengumpulkan 31 poin dari total 38 pertandingan. Posisi ke-22 menjadi ganjaran setimpal atas performa medioker tersebut. Empat tahun lamanya mereka harus berkutat di kasta kedua, menahan malu melihat rival-rival tradisional mereka berjaya di televisi. Titik balik baru muncul ketika sosok legendaris Kevin Keegan datang membawa angin perubahan. Keegan tidak hanya menyelamatkan klub dari ancaman degradasi ke Divisi Ketiga, tetapi juga berhasil membawa mereka promosi sebagai juara Divisi Pertama pada 1992/93, sekaligus menyambut lahirnya era baru bernama Premier League.Bayang-Bayang Hitam Era Mike Ashley
Baca Juga: UEFA Menjatuhkan Skorsing Buat Guendouzi dan Greenwood: Ulah Buruk Usai Laga Berbuntut Panjang
Dari total enam kali degradasi, dua yang terakhir terjadi di era modern dan meninggalkan trauma paling mendalam bagi para pendukung. Masuknya pengusaha ritel Mike Ashley pada tahun 2007 awalnya disambut dengan secercah harapan. Ia digadang-gadang akan membawa suntikan dana segar untuk mendobrak dominasi "Big Four".
Harapan itu dengan cepat berubah menjadi mimpi buruk. Kebijakan pelit di bursa transfer, campur tangan berlebihan dalam urusan teknis, hingga keputusan-keputusan kontroversial memicu amarah massal. Puncak dari kekacauan manajerial ini meledak pada musim 2008/09.
Tiga manajer berbeda silih berganti mengisi kursi panas dalam satu musim. Penunjukan Joe Kinnear yang minim taktik disusul oleh panggilan darurat kepada sang legenda hidup, Alan Shearer. Sayangnya, upaya penyelamatan itu terlambat. Air mata Shearer di pinggir lapangan saat timnya dipastikan turun kasta menjadi salah satu potret paling ikonik dalam sejarah kelam Premier League.
Meski langsung promosi pada musim berikutnya sebagai jawara Championship, penyakit kronis di tubuh manajemen tak kunjung sembuh. Pada musim 2015/16, petaka kembali datang. Pengeluaran minim dan kegagalan deretan pemain baru seperti Georginio Wijnaldum dalam beradaptasi dengan ritme tim berujung pada finis di peringkat ke-18.
Bahkan pelatih sekelas Rafael Benitez yang didatangkan pada pertengahan musim tak kuasa menahan laju kapal yang sudah terlampau bocor. Protes fans memuncak, boikot pertandingan menjadi pemandangan biasa, dan spanduk bertuliskan "Ashley Out" berkibar di mana-mana. Benitez kemudian membuktikan kelasnya dengan membawa Newcastle langsung promosi pada musim 2016/17, namun hubungan klub dengan pemilik tetap retak hingga akhir masa jabatannya.