Beda Champions League dan Europa League: Format, Gengsi, dan Total Hadiah
Β· sukro score.co.id
NYON, score.co.id - Beda Champions League dan Europa League kini makin mencolok, terutama dari sisi gengsi dan guyuran hadiah uang, meski format baru 2024/25 membuat keduanya tampak serupa. Keberhasilan skuad Kylian Mbappe di Paris Saint-Germain mengangkat trofi 'Si Kuping Besar' dan selebrasi Brennan Johnson bersama Tottenham Hotspur di final Europa League menjadi bukti nyata jurang perbedaan dua kasta kompetisi elite Eropa ini.
Trofi Liga Champions (kiri) dan Liga Europa (kanan) menjadi simbol kasta tertinggi sepak bola klub Eropa.
Format Baru 2024: Serupa Tapi Tak Sama
Sejak musim 2024/25, UEFA merombak total kedua kompetisinya. Baik Liga Champions maupun Liga Europa kini sama-sama mengusung format league phase dengan 36 tim, menggantikan sistem grup tradisional. Setiap klub akan memainkan delapan laga melawan delapan lawan berbeda untuk memperebutkan tiket ke fase gugur.
Meski strukturnya identik, jalur kualifikasinya tetap menjadi pembeda utama. Liga Champions adalah panggung bagi para juara liga domestik dan tim-tim peringkat teratas dari liga elite Eropa. Sementara itu, Liga Europa menjadi rumah bagi para pemenang piala domestik, tim peringkat kelima dari liga top, serta klub yang tersingkir di babak kualifikasi UCL. Aturan "tim buangan" dari fase grup UCL ke UEL pun resmi dihapus.
Gengsi Tetap Jadi Pembeda Utama
Soal gengsi, UEFA tak pernah ragu menempatkan Liga Champions di singgasana tertinggi. Trofi Si Kuping Besar adalah mahkota paling prestisius dengan eksposur global yang tak tertandingi. Seperti yang ditegaskan dalam rilis resminya:
"Liga Champions UEFA adalah puncak dari sepak bola klub Eropa, menyediakan panggung utama bagi para pemain untuk mengukir nama mereka atau mengukuhkan tempat mereka di antara yang terbaik di dunia."
Namun, Liga Europa bukan sekadar kompetisi kelas dua. Gelar juara di sini menawarkan sebuah 'jalan pintas' krusial: tiket otomatis ke league phase Liga Champions musim berikutnya. Aturan ini bahkan memiliki skema rebalancing, seperti saat Atalanta juara UEL 2023/24 yang membuat Benfica kecipratan untung lolos langsung karena slot juara bertahan tak terpakai.
Tottenham Hotspur merayakan gelar juara Liga Europa 2024/25 setelah mengalahkan Manchester United di Bilbao.
Perbedaan paling dramatis terletak pada pundi-pundi uang. Menurut laporan terbaru dari Sporting News, kesenjangan finansial antara kedua kompetisi ini bak langit dan bumi. Untuk siklus 2025/26, total hadiah UCL mencapai β¬2,467 miliar (sekitar Rp42,8 triliun), sementara total pot UEL hanya berada di angka Β£475,4 juta, atau kurang dari seperempatnya.
Setiap kontestan UCL langsung mengantongi β¬18,62 juta hanya untuk berpartisipasi. Kemenangan di fase liga diganjar β¬2,1 juta, sedangkan sang juara berhak atas bonus trofi senilai β¬25 juta. Sebagai gambaran, Paris Saint-Germain meraup total β¬83,12 juta saat menjadi kampiun musim 2024/25.
Bandingkan dengan Liga Europa. Tim peserta 'hanya' menerima β¬4,3 juta, dengan bonus kemenangan β¬453 ribu. Hadiah untuk sang juara pun 'cuma' sekitar β¬5,9 juta. Inilah mengapa kemenangan di UEL seringkali dianggap lebih berharga karena jaminan kualifikasi UCL yang menyertainya bernilai hampir Β£16 juta.
Skuad Paris Saint-Germain merayakan gelar Liga Champions 2024/25 dengan hadiah fantastis menanti.
Pada akhirnya, perdebatan soal beda Champions League dan Europa League selalu kembali pada dua hal: gengsi tertinggi dan kekuatan finansial. Keduanya menawarkan drama, namun hanya satu yang menjadi puncak impian setiap klub di benua biru. Terus ikuti analisis mendalam dan berita terbaru seputar kompetisi Eropa hanya di score.co.id.